Bolehkah Saya Belajar Meditasi Sendiri Dengan Objek Keluar Masuknya Napas Tanpa Bimbingan Seorang Ahli Meditasi?

Bolehkah Saya Belajar Meditasi Sendiri Dengan Objek Keluar Masuknya Napas Tanpa Bimbingan Seorang Ahli Meditasi?
Bolehkah Saya Belajar Meditasi Sendiri Dengan Objek Keluar Masuknya Napas Tanpa Bimbingan Seorang Ahli Meditasi?

Bolehkah Saya Belajar Meditasi Sendiri Dengan Objek Keluar Masuknya Napas Tanpa Bimbingan Seorang Ahli Meditasi?

Bolehkah Saya Belajar Meditasi Sendiri Dengan Objek Keluar Masuknya Napas Tanpa Bimbingan Seorang Ahli Meditasi?

Buddha.id - Namo Buddhaya, sebelumnya Admin ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2018 semoga tahun ini membawa kebaikan, kebahagian serta berkah yang lebih berlimpah lagi dari tahun sebelumnya. Pada kesempatan yang baik ini kita akan mengulas sebuah pertanyaan yang sangat bagus yang akan dijawab oleh Bhante Uttamo tentang meditasi. Namun sebelum itu ada baiknya teman-teman melihat tips meditasi berikut

Baca juga: Agar Berjalan Lancar Perhatikan 10 Tips Meditasi Berikut

Pertanyaan :
Bhante, saya termasuk umat yang sibuk sedang merintis usaha wiraswasta , tetapi saya sangat ingin belajar meditasi. Saya takut karena pernah membaca bahwa orang bisa menjadi gila karena salah metode belajar meditasi..

Pertanyaan saya: bolehkah saya belajar meditasi sendiri dengan objek keluar-masuknya napas tanpa bimbingan seorang ahli meditasi ?
Terima kasih, Bhante.

Jawaban :

Latihan meditasi adalah merupakan hal pokok dalam melaksanakan Ajaran Sang Buddha. Latihan meditasi dapat menggunakan berbagai macam obyek. Salah satu obyek yang banyak dianjurkan oleh para guru meditasi adalah memperhatikan proses masuk dan keluarnya pernafasan. Timbulnya pandangan bahwa meditasi bisa menjadikan seseorang menjadi gila adalah karena beberapa penyebab.

Penyebab utama, selain karena memang ia sudah punya kecenderungan gila, pikiran pelaku meditasi tidak terfokus pada obyek yang telah dipilihnya. Pikirannya hanyut terlalu jauh dengan berbagai bentuk pikiran yang muncul selama bermeditasi.

Ia seakan mampu mendengar suara tertentu, ia seakan dapat melihat berbagai mahluk dan sebagainya. Padahal, sebagian besar pengalaman batin seperti itu disebabkan oleh pikirannya sendiri. Kepastian tentang kebenaran yang ia rasakan ini sebaiknya didiskusikan dengan orang yang berpengalaman bermeditasi.

Sebaliknya, apabila pelaku meditasi selalu berusaha dan akhirnya mampu memusatkan perhatian pada obyek, ia tidak akan menjadi gila. 'Memusatkan perhatian' yaitu ketika pelaku meditasi berusaha untuk terus memperhatikan obyek terpilih misalnya masuk dan keluarnya pernafasan, walaupun adalah hal biasa kalau pikirannya menyimpang memikirkan hal lain.

Ia hendaknya segera menyadari gerakan pikiran ini dan perhatiannya harus segera dikembalikan pada obyek. Ketika pikirannya bergerak lagi, ia harus mewaspadainya dan mengembalikan perhatian pada obyek. Demikian seterusnya. Pada prinsipnya, apapun pengalaman yang ia merasa
lihat, rasa, bau dan sebagainya, hendaknya segera dikembalikan pada obyek sehingga pikirannya menjadi terpusat, jangan diikuti.

Setelah mahir memusatkan pikiran pada obyek selama yang ia sukai, maka ia dapat mulai mengamati segala gerak gerik pikiran yang menyimpangkan perhatian pada obyek tersebut. Artinya, apabila semula ia hanya memperhatikan proses masuk keluarnya pernafasan saja, kini ia justru menjadikan segala gerak gerik pikiran sebagai obyek meditasi.

Ketika pikiran menyimpang, ia selalu waspada dan menyadarinya. Ia akan mengerti bahwa gerak pikiran itu akan segera lenyap ketika disadari. Ia juga akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya akan menjadi lenyap ketika disadari. Suka, duka, sedih, kecewa, sakit dan penderitaan semuanya menjadi lenyap ketika disadari. Ia akan mencapai tahap pemahaman bahwa segala sesuatu di alam ini adalah tidak kekal, hanya timbul dan seketika itu pula lenyap. Batinnya menjadi tenang dan bahagia. Ia terbebas dari kemelekatan. Ia terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.

Dengan menggunakan prinsip dasar meditasi seperti yang diuraikan di atas, pelaku meditasi tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi gila. Hal ini karena pada latihan tahap pertama ia selalu memusatkan perhatian pada obyek, sedangkan tahap berikutnya, ia menyadari bahwa segala bentuk pikiran yang muncul akan segera
lenyap ketika diamati.

Memang, idealnya meditasi untuk tahap lanjutan membutuhkan bimbingan khusus dari orang yang Anda anggap mampu untuk memberikan petunjuk. Apalagi di tengah kesibukan, Anda dapat menyediakan waktu untuk berlatih meditasi di vihara, paling sedikit 10 hari sampai dengan 14 hari dalam setahun. Kebiasaan ini akan dapat meningkatkan kualitas meditasi Anda.Semoga dengan keterangan ini akan membangkitkan semangat Anda untuk terus melatih meditasi.

Semoga kemajuan dalam usaha dan meditasi akan menjadi milik Anda.

Semoga bahagia.
Salam metta, B. Uttamo

Dikutip: https://www.facebook.com/TS2C2/posts/1269502223182090
Sumber: Daily Dhamma Aplikasi Tanya Jawab

Your Reactions:

Bila berkenan, Anda juga bisa membantu pengembangan blog ini dengan Paypal atau bisa juga Memberi Donasi

Karena tidak semua pertanyaan bisa saya jawab. Untuk itu mari bergabung dengan Forum Diskusi dari situs Buddha.id agar kita semua dapat bertukar pikiran serta berbagi pengetahuan kepada teman-teman lainnya Gabung Forum. Salam Metta _/|\_

Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silahkan kontak pada menu di atas.