Karma Baik Karma Buruk Siapa Yang Tahu?
Karma Baik Karma Buruk Siapa Yang Tahu?

Karma Baik Karma Buruk Siapa Yang Tahu?

banner
Karma Baik Karma Buruk Siapa Yang Tahu?

Buddha.id - Namo Buddhaya, terima kasih kepada saudara Alex Wijaya yang sudah meluangkan waktunya untuk berbagi artikel pada blog ini. Pada kesempatan ini pula saya ingin menyampaikan permohonan maaf jika ada artikel yang dikirimkan namun belum sempat termuat dalam situs ini, tapi dilain kesempatan pasti akan saya tampilkan disini.

Karma Baik Karma Buruk Siapa Yang Tahu?

Dikisahkan pada suatu masa di Tiongkok, hiduplah seorang saudagar yang kaya dan terpandang. Dia memiliki dua hal yang sangat disayanginya, yaitu seorang putra yang tampan dan cerdas, yang akan menjadi pewaris usaha dan kekayaannya, serta seekor kuda betina yang sangat anggun dan menjadi kuda terbaik di seluruh negeri Tiongkok.

Suatu hari, penjaga kuda lupa menutup kandang kuda, sehingga kudanya lepas dan masuk ke dalam hutan. Mendengar kabar ini, tetangga dan sahabatnya berdatangan seraya berkata bahwa karma buruk si saudagar kaya sedang berbuah. Mendengar hal ini, saudagar dengan tersenyum berkata, "karma baik, karma buruk, siapa yang tahu..."

Beberapa hari kemudian, ternyata kudanya kembali dari hutan bersama dengan seekor kuda jantan liar yang sangat gagah. Berita ini cepat tersebar, tetangga serta sahabatnya kembali datang untuk mengucapkan selamat serta berkata bahwa karma baik si saudagar kaya sedang berbuah. Mendengar hal ini, saudagar dengan tersenyum kembali berkata, "karma baik, karma buruk, siapa yang tahu..."

Selanjutnya, ketika putranya sedang mencoba menjinakkan kuda jantan yang masih liar, ia terjatuh dan tubuhnya terinjak oleh kuda hingga menjadi cacat. Mendengar hal ini, kembali tetangga dan sahabatnya datang, mereka berkata bahwa si saudagar mendapat karma buruk dan betapa sialnya dia. Mendengar ini, dengan tersenyum saudagar kembali berkata, "karma baik, karma buruk, siapa yang tahu..."

Selang beberapa waktu, di Tiongkok terjadi perperangan. Atas perintah kaisar semua keluarga harus mengirimkan putra mereka untuk pergi ke medan perang. Banyak keluarga yang harus kehilangan putranya. Bagaimana dengan si saudagar? Karena cacat, maka putranya tidak perlu ikut berperang. Tetangga dan sahabatnya kembali datang dan berkata bahwa karma baik si saudagar begitu besar. Saudagar yang mendengar hal ini kembali tersenyum dan berkata, "karma baik, karma buruk, siapa yang tahu..."

Begitu mudah manusia menilai sebuah kondisi sebagai karma baik ataupun karma buruk. Jika pikiran menilai suatu kondisi menguntungkan bagi dirinya, maka kondisi tersebut disimpulkan oleh pikiran sebagai hal yang baik, demikian juga sebaliknya.

Segala yang dialami didahului pikiran, dipelopori pikiran, diciptakan pikiran. Jika orang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang bajik, maka kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkannya." - Dhammapada I,2.

Buddha menjelaskan tentang delapan kondisi di dalam kehidupan manusia yang masih terbelenggu oleh Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian), dan Moha (kegelapan batin), yang mana kondisi ini tidak berakhir/terhenti sebelum mencapai pembebasan (nirwana).

Delapan kondisi tersebut adalah untung-rugi; sukses-gagal; dipuji-dihina; bahagia-derita" - Atthaloka Dhamma - A.N VIII,2.

Pikiran selalu diombang-ambingkan oleh delapan kondisi ini. Bahagia dan derita silih berganti. Akar penderitaan adalah karena keinginan (tanha) yang tidak terpuaskan/tercapai. Semua orang berharap mendapatkan hal yang baik dalam kehidupannya, dan menolak hal yang buruk. Tapi kenyataannya, hidup diwarnai dengan ketidakpastian, selalu berubah dan tidak tetap (anicca). Dengan menerima dan memahami anicca, batin akan menjadi lebih tenang dan seimbang (uppekha).

Melalui pikiran, sebuah kondisi dinilai dan diberi label baik atau buruk. Padahal, semua kondisi dan fenomena yang terjadi adalah netral dan demikian adanya. Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka pikiran perlu diarahkan untuk selalu berpikir positif dan optimis. Jalan untuk terbebas dari penderitaan adalah mengembangkan kebijaksanaan melalui pelaksanaan sila (molaritas) dan samadhi (pikiran baik yang terkonsentrasi).

Hendaknya seseorang seperti batu karang. Yang tidak tergoyahkan oleh badai ombak yang menerjang. Demikian juga sebaliknya, seseorang haruslah tetap tegar dan tenang di dalam menghadapi fenomena yang terjadi dalam kehidupan." - Pandita Vagga, Bab VI syair 81

Your Reactions:

Info Buddhis : (Kegiatan Terakhir 2017) Mari danai cetakan paritta jilid 6 bersama Buddha.id DISINI. Salam Metta _/|\_

Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silakan kontak pada menu di atas.