Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?
Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?

Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?

banner
Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?

Buddha.id
- Namo Buddhaya, sudah lama juga Admin tidak memuat postingan tanya jawab padahal artikel-artikel seperti ini sangatlah menarik untuk menambah wawasan kita semua. Untuk itu saya akan berbagi topik tentang Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?, tentunya ini akan menarik sekali dan teman-teman harus baca sampai habis yah hehe.

Bisakah Hewan Mendengarkan Dhamma?, sebenarnya sudah pernah diposting oleh Buddhazine Salah Satu Situs Berita Buddhis Terbaik di Indonesia dan saya muat kembali disini tentunya dengan harapan semoga dapat berguna dan menambah wawasan kita.
“… sedangkan bagi para hewan, mereka dapat dengan cara mendengarkan Dhamma ajaran Buddha, memeroleh manfaat untuk (terlahir kembali yang) mendukung bagi perkembangan spiritual, dan dengan manfaat tersebut, di dalam tumimbal lahir kedua, atau ketiga, mereka dapat mengikuti jalan dan mendapatkan hasil daripadanya.” Buddhaghosa (Vis 203).

Seringkah Anda ke wihara? Kalau iya, tentu Anda pernah menjumpai beberapa hewan yang berkeliaran di sekitar wihara, entah itu anjing, kucing, burung, rusa dan lain sebagainya. Hewan-hewan ini biasanya bersikap lebih jinak dan bersahabat. Lantas pernahkah terlintas dalam benak kita dan bertanya, “Apakah hewan-hewan ini dapat mendengar dan memahami Dhamma ajaran Buddha? Apakah mereka menerima manfaat dari mendengar Dhamma?”

Pertanyaan itulah yang diteliti oleh James Stewart dari Universitas Tasmania yang dituangkannya ke dalam sebuah artikel jurnal berjudul Dharma Dogs: Can Animals Understand The Dharma? Textual and Ethnographics Considerations. Di dalam paparannya, James mengemukakan bahwa ide penelitiannya berasal dari sebuah kejadian di Wihara Tissamahārāma yang terletak di Distrik Hambantota di Selatan Sri Lanka.

Pada saat itu dia menjumpai seekor anjing yang sering berkeliaran di area wihara. Anjing itu kemudian diusir oleh seorang pembantu wihara dengan menggunakan sebuah tongkat panjang. Melihat peristiwa itu, James pun berusaha mencari jawaban dengan meneliti posisi para hewan di dalam ajaran Buddha. Penelitian dilakukan dengan studi literatur dan studi etnografi – sebuah pendekatan ilmiah yang berusaha menjelaskan manusia dan kebudayaannya.

Naskah-naskah buddhis

Sebagaimana yang pernah kita baca dalam naskah-naskah buddhis, hewan memainkan peranan cukup penting dalam kebudayaan dan literatur buddhis. Beberapa bagian dari Kitab Pāli menyebutkan keberadaan hewan-hewan yang menghargai Buddha dan Dhamma. Beberapa hewan bahkan merupakan hewan ajaib, seperti ular naga maupun kinara-kinari.

Di dalam Jātaka, hewan-hewan ini digambarkan sebagai makhluk-makhluk cerdas dan berakal budi yang berusaha melakukan banyak kebaikan agar dapat terlahir di alam yang lebih baik. Lantas apakah hewan-hewan dapat mengembangkan kualitas spiritual mereka dengan mendengarkan Dhamma? Dapatkah mereka mencapai Pencerahan?

Pertanyaan terkait apakah para hewan yang tinggal dan berkeliaran di sekitar wihara maupun tempat buddhis lainnya dapat memahami Dhamma dan mengembangkan kualitas spiritual mereka mungkin berasal dari sebuah pandangan bahwa dengan merasakan energi Dhamma secara terus-menerus akan dapat memurnikan hati/pikiran (citta) mereka yang berada di dekatnya. Wihara adalah tempat berdiamnya para bhikkhu dan tempat dilakukannya banyak perbuatan bajik seperti pembacaan sutta-paritta, ceramah Dhamma, pelaksanaan Vinaya, dan lain sebagainya.

Kitab Pāli menyebutkan manfaat dari mendengarkan Dhamma ajaran Buddha, bahwa mendengarkan adalah sebuah kondisi untuk memahami ajaran Buddha. Mendengarkan Dhamma dapat dilakukan secara aktif maupun pasif. Di sini ditekankan perbedaan antara “mendengarkan” (suṇāti) Dhamma dengan “memahami” (vijānati) Dhamma.

Sebuah permohonan dari Brahma Sahampati kepada Buddha sebagai berikut, “Terdapat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka, yang akan pergi menjauh karena mereka tidak mendengarkan Dhamma. Sebagian dari mereka akan mampu memahami Dhamma” (Sutta Ayacana, SN 6.1 232).

Kamu dapat melanjutkan membaca artikel ini langsung pada sumbernya DISINI

Your Reactions:

Info Buddhis : (Kegiatan Terakhir 2017) Mari danai cetakan paritta jilid 6 bersama Buddha.id DISINI. Salam Metta _/|\_

Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silakan kontak pada menu di atas.