Jika Masih Sering Membenci, Pantaskah Saya Disebut Umat Buddha yang Baik?

Jika Masih Sering Membenci, Pantaskah Saya Disebut Umat Buddha yang Baik?

5 Juni 2017

Jika Masih Sering Membenci, Pantaskah Saya Disebut Umat Buddha yang Baik?

Paritta Suci
Jika Masih Sering Membenci, Pantaskah Saya Disebut Umat Buddha yang Baik?

Buddha.id - Namo Buddhaya, “Dunia ini butuh kasih sayang!” Demikian “wejangan” yang disampaikan oleh Bhante Subhapanno (Kepala Sangha Theravada Indonesia), sewaktu saya menghadiri perayaan Waisak di Cetiya Theravada Dhamma Viriya, Harapan Indah, pada tanggal 28 Mei lalu.

Tema “Cinta Kasih Penjaga Kebhinnekaan” dinilai sangat relevan terhadap kondisi bangsa pada saat ini, yang belakangan memang sedang “gerah” dibakar pelbagai prahara. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia tengah memasuki masa yang penuh pergolakan, dimulai dari panasnya situasi politik sampai aksi teror.

Kasus-kasus demikian banyak berseliweran di media massa, seperti televisi, koran, dan media online. Hal itu tentunya menimbulkan perasaan cemas, risau, dan takut di masyarakat.

Namun demikian, jika ditelusuri, kasus-kasus tersebut bisa muncul lantaran timbulnya kebencian. Kebencian telah menciptakan banyak sekali masalah. Karena kebencian, seseorang yang dulunya dikenal sebagai “teman” kini malah menjadi “lawan”. Yang dulunya hidup akur tahu-tahu sudah enggan saling tegur.

Makanya, jangan heran kalau di media sosial, seperti facebook, banyak orang meng-unfriend temannya lantaran berbeda pandangan dengannya. Itu adalah fenomena sosial yang nyata terjadi, sekaligus “mengiris” hati.

Kalau begini kondisinya, pantaslah Bhante Subhapanno menyebut kalau dunia ini butuh kasih sayang. Hanya kasih sayanglah yang dianggap bisa memadamkan kebencian tersebut.

Dhammapada

Hal itu tentunya sejalan pula dengan Ajaran Buddha yang mengatakan bahwa kebencian tak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian, tapi baru akan berakhir dengan balasan kasih sayang, sebagaimana terdapat dalam kutipan Dhammapada bait 5.

Kalimat “legendaris” di kalangan umat Buddha itu sebetulnya muncul lantaran dilatarbelakangi sebuah kisah nyata. Kisahnya kurang lebih begini. Dahulu kala hiduplah sepasang suami-istri yang saling mencintai satu sama lain. Mereka menjalani hidup dengan akur, harmonis, dan bahagia.

Namun demikian, kebahagiaan mereka terasa kurang lengkap lantaran belum juga mempunyai anak. Setelah “berkonsultasi” kepada sejumlah tabib, barulah diketahui kalau si istri ternyata mandul. Maka, apapun upaya yang dilakukan akan berakhir sia-sia lantaran memang sudah karmanya demikian.

Si istri sangat menyayangi suaminya. Bahkan, saking cintanya, ia sampai mengizinkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain yang dipilihnya sendiri. Dengan begitu, siapa tahu saja, wanita tersebut bisa memenuhi harapan suaminya untuk memiliki keturunan.

Si suami setuju. Lalu, kawinlah ia dengan seorang wanita. Awalnya, pernikahan itu berjalan lancar. Hubungan antara istri tua dan istri muda terlihat akur. Namun, masalah mulai muncul setelah istri muda diketahui mengandung anak. Sejak saat itu, si suami lebih memerhatikan si istri muda daripada istri tua.

Hal itu “memicu” perasaan cemburu dan dendam dalam diri istri tua. Lantaran digelapkan oleh kemarahan, ia kemudian meracuni si istri muda. Hal itu tak hanya “merontokkan” janin di dalam rahimnya, tapi juga merenggut nyawanya. Jelang kematiannya, si istri muda bersumpah akan membalas dendam pada kehidupan berikutnya.

Pada masa Buddha Gotama, si istri muda terlahir ulang sebagai Yakkhini, sementara si istri tua terlahir sebagai seorang wanita yang sudah mempunyai seorang anak.

Anda dapat melanjutkan Artikel ini langsung pada sumbernya : Click Here