Pesan Waisak 2561 BE/2017 oleh Bhante Dharmavimala
Pesan Waisak 2561 BE/2017 oleh Bhante Dharmavimala

Pesan Waisak 2561 BE/2017 oleh Bhante Dharmavimala

banner
Pesan Waisak 2561 BE/2017 oleh Bhante Dharmavimala

Buddha.id - Namo Buddhaya, sebelumnya Admin mengucapkan Selamat Hari Tri Suci Waisak 2561 BE / 2017, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Dikesempatan saya akan berbagi informasi tentang Pesan Waisak 2561 BE/2017 oleh Bhante Dharmavimala. Artikel ini saya kutip dari Buddhazine Salah Satu Situs Berita Buddhis Terbaik di Indonesia , teman-teman bisa langsung mengunjunginya untuk mendapatkan informasi Buddhis lainnya.

Pengetahuan dapat dibagikan oleh seseorang pada orang lain, namun kebijaksanaan dan belas kasih hanya dapat ditumbuhkan dalam diri seseorang atas usahanya sendiri. Usaha itu adalah menjalankan hidup dengan penuh kesadaran.

Kita bersama-sama merayakan Waisak 2561 BE. Ini berarti sudah 2561 tahun guru junjungan kita parinirwana, karena penanggalan buddhis dimulai sejak Buddha Gotama mangkat. Berbeda dengan di negara-negara lain. Kita di Indonesia merayakan Waisak, 11 Mei 2017 karena Indonesia memiliki tradisi menetapkan Waisak ketika bulan benar-benar sempurna.

Pada saat kita melakukan puja bakti dengan penuh kekhusyukan keyakinan kita terhadap Buddha, Dharma, dan Sanggha semakin kukuh. Pikiran kita ditujukan untuk kebaikan, pada saat itu kita juga mempraktikkan perhatian penuh kesadaran yang membuahkan kedamaian.

Hari Waisak merupakan hari yang indah, kita memperingati tiga peristiwa penting yaitu hari kelahiran Beliau sebagai Pangeran Siddharta di bawah pohon jambu di Taman Lumbini, hari Beliau sebagai petapa Gotama mencapai pencerahan sempurna di bawah pohon bodhi di Bodhgaya, hari Beliau parinirwana di bawah pohon sala di Kusinara.

Tri Suci Waisak

Buddha Gotama adalah Guru Agung kita, beliau telah menunjukkan jalan kepada kita, jalan itu adalah jalan tengah yang akan membebaskan dukkha. Seyogianya kita mengikuti jejak Buddha untuk merealisasi kebahagiaan tertinggi, kebahagiaan sejati. Marilah memaknai Waisak dengan tekad untuk melakukan banyak kebajikan, untuk terus meningkatkan diri kita dalam kebaikan, untuk membersihkan kita dari kotoran-kotoran batin.

“Memahami kebhinekaan dalam kebersamaan” merupakan tema yang diangkat oleh Sanggha Agung Indonesia, jika kita dengan segera memaknai tema ini maka yang kita ingat adalah kondisi bangsa kita saat ini bahwa kebersamaan bangsa Indonesia akan terancam jika kita kurang memahami kebhinekaan.

“Dengan melihat kebhinekaan, walaupun adanya perbedaan kita hidup dalam kebersamaan. Kebersamaan terjadi karena kita memiliki kesamaan. Kita sama-sama manusia, kita sama-sama menggunakan udara yang sama, kita menghirup dan menghembuskan napas kita di satu udara. Maka kita disebut satu udara, se-udara, atau saudara.

Selain memiliki kesamaan, kita memiliki kesalingterkaitan satu dengan lainnya. Keterhubungan kita dengan semesta dapat dilihat secara mendalam di satu porsi makanan, di sana ada banyak peran. Para petani, para sopir, montir di bengkel mobil, juru masak, dan seterusnya.

Kita sesungguhnya dengan semua makhluk tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kita semua ada dalam kebersamaan. Sehingga doa buddhis yang universal adalah, ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia’.

Bersama-sama dengan cinta kasih dan welas asih, non diskriminatif adalah suatu kondisi batin yang seharusnya kita miliki. Namun, tidak cukup hanya berhenti di tataran doa. Jika kita mau dan mampu, kita seyogianya melakukan tindakan nyata bagi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.

Kepedulian Sosial, Hoax, dan Kebijaksanaan

Turut serta dalam kegiatan sosial membuat kita tumbuh dalam belas kasih Buddha. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan ungkapan realita, tentang kenyataan sesungguhnya. Kita itu bhinneka, namun juga sebaliknya tunggal ika. Kita satu sama lain memang memiliki perbedaan, namun memiliki kesamaan, sama-sama manusia yang menginginkan kebahagiaan.

Dengan semangat kebersamaan kita akan melihat perbedaan lebih sebagai hal yang memperkaya daripada sebagai potensi yang mempu mengoyak kebersamaan. Jika kita mampu melihat perbedaan dari kacamata demikian, kita akan senantiasa dalam kebersamaan.

Kebersamaan, dalam agama Buddha kita mengenal wawasan kebersamaan yang disebut Buddhayana atau jalan Buddha. Agama Buddha akan tampak bhinneka manakala berbagai metode dan budaya yang menyertainya. Inti agama Buddha atau agama Buddha inti adalah kebijaksanaan dan belas kasih yang timbul dari perhatian penuh kesadaran.

Dengan mempraktikkan agama Buddha inti, yaitu perhatian penuh kesadaran yang menumbuhkan kebijaksanaan dan belas kasih umat Buddha pasti dapat mewujudkan tanggung jawab sosialnya. Umat Buddha yang mempraktikkan perhatian penuh kesadaran tidak akan membuat berita palsu atau hoax yang akan menghancurkan kebersamaan. Umat Buddha yang memiliki kebijaksanaan tidak akan termakan oleh berita yang tidak jelas kebenarannya. Umat Buddha yang memiliki belas kasih tidak akan ikut-ikutan menyebarkan berita yang penuh kebencian.

Tampaknya dengan kondisi dunia masa kini, agama Buddha inti menjadi semakin relevan. Perhatian penuh kesadaran menjadikan manusia memiliki kewaspadaan dan keterjagaan terhadap dampak negatif dari kemajuan teknologi, termasuk teknologi informasi.

Sungguh sangat disayangkan jika orang-orang yang tadinya penuh kedamaian batinnya menjadi bergolak, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mendapatkan makanan batin yang buruk. Semakin banyak makanan batin yang buruk, jika ia tidak penuh kesadaran dan penuh kewaspadaan maka seseorang yang semula baik akan berubah menjadi orang yang memiliki pikiran yang buruk dan penuh kebencian.

Sebaliknya, jika kita bisa tetap eling dan waspada maka kita bisa menjaga kemurnian pikiran kita dari hari ke hari kita bertumbuh dalam kebaikan. Berbagai hasil kemajuan teknologi digital akan menjadi sarana penyebaran cinta kasih dan kearifan, bukan menjadi sarana penyebaran kebencian dan kedunguan!

Media adalah netral, pikiran orang yang berada dibaliknyalah yang sesungguhnya berperan menentukan apakah dunia ini akan menjadi tanah suci atau menjadi hancur? Agama Buddha inti, dengan praktik penuh kesadarannya menjadi solusi bagi masa depan. Mengapa? Karena akan banyak kecerdasan buatan yang mengambil alih peran manusia, komputer dan robot sebagai contoh.

Menyerahkan kehidupan seluruhnya pada teknologi merupakan tragedi! Sesungguhnya ada hal-hal yang lebih utama yang tidak tergantikan oleh teknologi, yaitu kebijaksanaan, kearifan, dan belas kasih.

Source: http://buddhazine.com

Your Reactions:

Info Buddhis : (Kegiatan Terakhir 2017) Mari danai cetakan paritta jilid 6 bersama Buddha.id DISINI. Salam Metta _/|\_

Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silakan kontak pada menu di atas.