Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern

Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern
Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern

Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern

Donasi
Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern

Buddha.id - Namo Buddhaya, Happy New Year 2017 -  Terima kasih kepada saudara Eka Y Saputra  " atas watu luangnya menyempatkan diri berbagi artikel ke situs ini. Semoga  artikel Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern ini membawa manfaat serta menambah pengetahuan untuk kita semua.

Diet Buddha Untuk Menurunkan Berat Badan Dengan Kebijaksanaan dan Sains Modern :

Dialihbahasakan dari The Buddha Diet Will Help You Lose Weight With Ancient Wisdom and Modern Science by Michael Gollust.

BARANGKALI, Sang Buddha adalah pelaku diet yoyo pertama di dunia. Dibesarkan dalam kehidupan yang mewah, sang pangeran muda Siddharta sempat menyaksikan kondisi dekadensi sebelum kemudian mengambil sikap ekstrim dan memilih menjalani kehidupan asketik dengan mengembara, berlapar-lapar hingga hampir mati, sampai akhirnya menemukan “jalan tengah.” Saat itu, Sang Buddha tentu sedang mencari sesuatu yang lebih mulia daripada sekedar bentuk tubuh yang ideal. Meskipun demikian, kebijaksanaan yang beliau temukan di tengah pencariannya bisa memberikan pencerahan bagi para pelaku diet modern.

Dan Zigmond - penulis , ilmuwan data, dan pendeta Zen - beserta Tara Cottrell telah meringkas kebijaksanaan yang diramu dari ajaran Buddha dan sains diet modern ke dalam buku berjudul Buddha’s Diet: The Ancient Art of Losing Weight Without Losing Your Mind.

Tak mesti jadi seorang pemeluk Buddhisme terlebih dahulu untuk mencoba diet tersebut. Yang kita dibutuhkan hanya sebuah jam/arloji, timbangan badan, pikiran terbuka, dan kemauan untuk bersabar menanggung perut keroncongan saat tengah malam selama beberapa minggu.

Kunci dari Diet Buddha adalah diet berbatas waktu yang juga dikenal sebagai intermittent fasting atau puasa berjeda. Konsepnya sederhana saja: tanpa memikirkan apa atau seberapa banyak jumlah makanan kita, diet ini hanya mengharuskan kita untuk berkonsentrasi atas waktu makan kita, untuk kemudian secara bertahap mengurangi jendela waktu makan kita setiap harinya.

Penelitian atas tikus dan manusia telah menunjukkan bahwa berbagai bentuk pola makan berbatas waktu cukup aman dan efektif untuk menurunkan berat badan. Gagasannya ialah: agar bisa berjalan secara efisien, metabolisme tubuh kita membutuhkan jeda harian dari makanan, situasi yang tidak diakomodasi dalam pola makan gaya Barat (dengan camilan dan asupan tanpa henti selama 24 jam).

Untuk memulai Diet Buddha, Anda bisa mengawali dengan membatasi jendela waktu makan Anda sepanjang 13 jam setiap harinya selama dua minggu. Hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, sebab kebanyakan dari kita terbiasa dengan jendela waktu makan sepanjang 15 jam atau lebih setiap harinya.

Selanjutnya, Anda akan mengurangi jendela waktu makan hingga sepanjang 12 jam per hari, kemudian 11, kemudian 10, hingga sampai ke jendela waktu makan 9 jam setiap harinya. Ini berarti Anda sarapan sekitar pukul 9 pagi, kemudian makan malam sebelum pukul 6 sore, dan selanjutnya tidak makan apapun sampai waktu sarapan keesokan harinya.

Jika Anda menganggap jendela waktu makan 9 jam cukup ekstrim, Zigmond mengingatkan pada kita bahwa para biarawan Buddhis - yang mempraktikkan tradisi yang dimulai oleh Sang Buddha sejak sekitar 2500 tahun yang lalu - biasanya makan antara pagi sampai sore hari, dan tampaknya mereka baik-baik saja dalam hal nutrisi dan stamina.

“Kami mencoba untuk merumuskan versi ‘jalan tengah’ kami sendiri,” kata Zigmond, “metode yang kami yakini bisa diikuti oleh kebanyakan orang dengan cukup nyaman dan tetap menghasilkan manfaat sehat dari diet berjeda.”

Ini adalah 7 tip dari dalam buku Zigmond yang bisa membantu Anda tetap ramping dan sehat sesuai metode Sang Buddha.

1. Mari melihat timbangan badan
Zigmond menyarankan para pelaku Diet Buddha untuk mengukur berat badan mereka setiap hari. Mencatat berat badan Anda adalah metode untuk mengendalikan diet dan kesehatan Anda, ujar Zigmond, dan metode untuk mengamati hal apa yang berguna dan tak berguna dalam diet Anda. Tentu saja, fluktuasi harian akan muncul.

2. Makanlah apa yang Anda inginkan (asal jangan junk food)
Yang menarik dari Diet Buddha ialah tidak adanya aturan ketat tentang apa yang boeh dan tak boleh dimakan. “Yang terutama ialah memakan makanan yang Anda sukai dan mengenyangkan,” tulis Zigmond. “Diet yang membuat Anda menderita tak akan berlangsung lama.” Daripada melabeli makan dengan “baik” atau “buruk,” lebih baik memikirkan mengenai apa yang “berguna” (lemak sehat, serat, dan protein berbasis sayur atau daging) dan yang “tidak berguna” (gula, makanan olahan, minuman beralkohol.)

Dan karena Anda tidak akan makan pada malam hari, secara alami Anda akan terhindar dari tawaran happy hour atau makan es krim. Sebab, kata Zigmond, hampir 70% dari seluruh es krim di dunia dikonsumsi setelah pukul 6 sore.

3. Sediakan cheat day atau hari curang
Traktiran bukanlah hal yang terlarang. Diet Buddha tak hanya memperbolehkan, justru menyarankan Anda menikmati cheat day sesekali. Mengapa? Zigmond mengatakan bahwa tubuh kita beradaptasi pada “lingkungan makanan” di sekitarnya, memperlambat metabolisme dan memompa keluar hormon lapar jika tubuh menganggap bahwa makanan sedang langka.

Zigmond mengutip sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa berpesta makanan secara teratur sesungguhnya bisa meningkatkan metabolisme yang membuat tubuh kita membakar lebih banyak kalori dan me-reset hormon pengendali nafsu makan. Diet Buddha memperbolehkan cheat day sekali setiap minggu. Pada hari itu, Anda boleh makan di luar jadwal. Ini adalah kesempatan untuk memanfaatkan pesta, ulang tahun, acara kerja, malam kencan, dan sejenisnya.

4. Berolahraga demi kebugaran
Zigmond menegaskan bahwa olahraga umumnya tidak membakar kalori sebanyak yang Anda kira, dan seringkali hanya membuat Anda merasa lapar. Makanya, diet ini tidak mengharuskan olahraga, namun menyarankannya jika Anda menikmatinya (Sang Buddha mengatakan bahwa menjaga tubuh tetap bugar membantu “menjaga batin kuat dan jernih”).

Kapan waktu yang tepat? Zigmond merekomendasikan pagi hari selepas bangun tidur dan menyebutkan penelitian yang menunjukkan bahwa berolahraga dengan perut kosong akan membakar lemak 205 lebih banyak daripada olahraga sesudah makan.

5. Tak perlu menyapu bersih isi piring
Orang Amerika membuang makanan dalam jumlah yang luar biasa, sekitar 42%. Meskipun demikian, Zigmond berpendapat bahwa solusi untuk sampah makanan bukanlah dengan cara menyapu bersih isi piring Anda.

Diet Buddha meminta Anda untuk mempertimbangkan, sesaat setelah Anda makan, apakah sisa makanan yang ada lebih baik dibuang di tempat sampah ataukah di dalam perut Anda. “Anda punya pilihan,” tulis Zigmond. “Anda bisa mengisi tong sampah ataukah Anda ingin menjadi
tong sampah.”

Setelah mulai terbiasa, Anda mungkin akan membuang makanan ke dalam tong sampah (atau lebih baik lagi, ke dalam tong kompos) lebih banyak daripada yang Anda harapkan. Namun, sekali Anda belajar untuk lebih memperhatikan tanda-tanda lapar dan kenyang - dengan kata lain, makan dengan penuh perhatian - Anda akan mampu menentukan porsi yang tepat, sehingga tak ada lagi kelebihan makan di tong sampah maupun di dalam perut Anda.

6. Ucapkan syukur
Zigmond menjelaskan bahwa dengan memikirkan lebih dalam mengenai sumber makanan, kita dapat menentukan pilihan makanan dengan lebih baik. Dan sebagian dari upaya untuk mengembangkan proses makan dengan penuh perhatian adalah dengan mensyukuri makanan yang kita makan. Cobalah mengucapkan syukur sesuai dengan tradisi keluarga Anda, atau Anda bisa meminjam ucapan dari tradisi Buddhis Zen Amerika ini:
Kami memikirkan upaya yang membawa makanan ini ke hadapan kami dan bagaimana makanan ini tersaji ke hadapan kami. Kami memikirkan sikap dan perilaku kami, dan apakah kami layak menerima sajian ini. Kami menganggap penting untuk menjaga batin dari sikap berlebihan seperti keserakahan. Kami menganggap makanan ini sebagai obat yang baik untuk menyambung hidup kami. Demi pencerahan maka saat ini kami menerima makanan ini.

7. Berikan perhatian
Oleh karena Diet Buddha meminta kita untuk memperhatikan waktu dan memikirkan apa yang kita makan dan kapan kita makan, Zigmond menjelaskan, “ini membuat kita lebih fokus.” Dan saat Anda benar-benar fokus, tambahnya, Anda mulai menyadari betapa banyaknya makanan yang kita konsumsi saat kita tidak benar-benar lapar.

“Saat kita mulai memperhatikan, secara alamiah kita mulai mencapai kecukupan dalam hal makan.” “Sang Buddha tidak menginginkan orang mengimani apa yang beliau katakan,” tambah Zigmond. “Beliau menginginkan orang untuk mencoba pelbagai hal dan melanjutkan hal-hal yang bermanfaat, sembari bereksperimen dan beradaptasi sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing.”

Jadi, cobalah tip-tip tersebut dan lihatlah sendiri hasilnya. Anda akan menyadari bahwa Diet Buddha bukan sekedar penjadwalan makan, namun sistem kalibrasi dan penyeimbangan segenap aspek kehidupan. Berat Anda mungkin akan turun beberapa kilogram, namun Anda juga dapat menemukan penyikapan yang lebih tercerahkan mengenai kesehatan.

Your Reactions:

Info Buddhis : Cetakan Sutra Sebab Akibat Jilid 3 Telah Dibuka. Semoga Percetakan TERAKHIR Pada Tahun 2017 Ini Berjalan Dengan. Jika Ada Kesalahan Dalam Penulisan Nama Penyumbang Segera Beritahu Admin Sebelum Buku Tercetak. _/|\_

Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silahkan kontak pada menu di atas.