Ajaran Buddha Tentang Kematian

Ajaran Buddha Tentang Kematian

11 Januari 2017

Ajaran Buddha Tentang Kematian

Paritta Suci
Ajaran Buddha Tentang Kematian

Buddha.id - Namo Buddhaya - Jika terdapat satu hal yang pasti dalam hidup ini, maka hal itu tidak lain adalah bahwa kita semua akan mengalami yang namanya kematian, tergantung pada suatu proses waktu yang sulit untuk dipahami.

Untuk sebagian orang kematian mungkin sesuatu yang “tabu” atau bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk di bicarakan ataupun dipikirkan, karena sesungguhnya tanpa dipikirkan, kematian itu sendiri pastinya akan datang. Ada beberapa orang yang terkalahkan oleh rasa takut akan kematian sehingga mereka sangatlah sulit untuk memiliki energi atau semangat untuk hidup terlebih pada saat mengalami sakit. Ketakutan akan kematian adalah suatu bentuk keadaan pikiran yang tidak sehat.

Kematian dalam ajaran Buddhis biasa disebut lenyapnya indra vital terbatas pada satu kehidupan tunggal dan bersamaan dengan fisik kesadaraan proses kehidupan. Kematian merupakan transformasi arus kesadaran seseorang yang terus mengalir dalam satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh kebodohan batin ataupun kemelekatan.

Pada akhir kehidupan fisik, pada saat bersamaan terdapat pemutusan hubungan antara proses mental dan tubuh, yang dengan cepat fisik akan mengalami kelapukan. Tetapi kelahiran lagi dengan cara yang tepat terjadi dengan segera pada beberapa alam kehidupan. Dalam buddhis tidak dikenal adanya sosok entitas abadi yang “mungkin” juga kita kenal sebagi roh abadi yang tidak bertransformasi ataupun satu sosok entitas kehidupan tunggl.

Kematian dalam pandangan Buddhis bukanlah akhir dari segalanya, namun kematian berarti putusnya seluruh ikatan yang mengikat kita terhadap keberadaan kita yang sekarang. Semakin kita dapat tidak terikat pada dunia ini dan belenggunya, akan semakin siap kita dalam menghadapi kematian dan pada akhirnya akan semakin dekat kita pada jalan menuju “keadaan tanpa kematian”. Dalam Buddhis, sesungguhnya kematian tidak dapat dipisahkan dari kelahiran, dan juga sebaliknya dimana setiap yang mengalami kelahiran akan juga mengalami kematian.

Dalam literatur medis dapat dikatakan bahwa kematian otak adalah kematian manusia. Kriteria kematian otak yang dapat diterima adalah kematian pada batang otak. Batang otak berada di bagian bawah otak manusia. Fungsi batang otak berkaitan dengan pengaturan pernafasan, detak jantung, dan tekanan darah. Secara umum dalam tradisi Buddhis menyepakati bahwa kematian dalam ajaran Buddha tidak ditentukan semata-mata oleh faktor fisik. Faktor batin yang mencakup kesadaran dianggap berperan sebagai faktor utama kematian.

Menurut ajaran Buddha ada empat penyebab kematian:
1. Habisnya masa hidup (ayukkhaya)
2. Habisnya tenaga karma atau akibat perbuatan penyebab kelahiran serta perbuatan pendukung (kammakkhaya)
3. Habisnya usia sekaligus akibat perbuatan (ubhayakkhaya)
4. Kecelakaan, bencana atau malapetaka (upacchedaka)

Perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan empat penyebab kematian tersebut berturut-turut adalah bagaikan pelita yang padam akibat habisnya sumbu, habisnya bahan bakar, habisnya sumbu serta bahan bakar, dan karena angin. Perenungan akan kematian memberikan manfaat yang sangat besar kepada siapapun baik ketika masih hidup maupun ketika mendekati ajal.

Buddha mengatakan ada lima hal yang harus sering direnungkan oleh siapapun:
“Usia tua mendatangiku, aku tidak dapat terhindar dari usia tua. Sakit dapat mendatangiku aku tidak dapat terhindara dari sakit. Kematian mendatangiku aku tidak dapat terhindar dari kematian. Aku adalah hasil dari perbuatan-perbuatanku. Perbuatan adalah sumber, asal muasal dan landasan. Perbuatan apapun yang kulakukan, baik ataupun buruk, itulah yang akan aku warisi”. (Anguttara Nikaya III, 71)

Bentuk perenungan kematian diberikan oleh sang Buddha dalam Sutta Nipata 574-581:
“Hidup di dunia ini tidak dapat diramalkan dan dipastikan.
Hidup adalah sulit, singkat, dan penuh dengan penderitaan.
Karena dilahirkan, orang harus mati.
Inilah sifat dunia.
Dengan usia tua, ada kematian.
Inilah sifat segala hal ketika buah telah masak, buah itu dapat jatuh dipagi hari.
Demikan pula, sesuatu yang terlahir dapat mati pada saatnya.
Bagaikan semua periuk yang dibuat oleh semua ahli tembikar akan berakhir dengan terpecahkan, begitu pula dengan kehidupan dari semua yang terlahirkan.
Tidak muda maupun tua, bodoh maupun bijaksana akan terlepas dari perangkap kematian, semuanya menuju kepada kematian. Mereka dikuasai oleh kematian.
Mereka melanjutkan perjalanan ke dunia lain.
Seorang ayah tidak dapat menyelamatkan anak maupun anggota keluarganya.
Lihatlah! Dengan disaksikan oleh sanak keluarga, disertai air mata dan ratap tangis, manusia dibawa satu persatu, bagaikan sapi menuju ke penyembelihan.
Maka, kematian dan usia tua merupakan bagian yang alami dari dunia.
Jadi, orang bijaksana tidak akan berduka cita, dengan melihat sifat dunia.”
Source: Dhamma Kehidupan