29 Agustus 2016

Tidak Ada Yang Lolos Dari Akibat Kamma Buruk

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Tidak Ada Yang Lolos Dari Akibat Kamma Buruk

Buddha.id - Namo buddhaya, sebelumnya kita sudah membaca artikel tentang Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran dan pada kesempatan yang baik ini mari bersama kita menyimak dan sedikit menghayati jika Tidak Ada Yang Lolos Dari Akibat Kamma Buruk.

Artikel Tidak Ada Yang Lolos Dari Akibat Kamma Buruk ini saya dapatkan dari Facebook dan saya sudah meminta ijin kepada Che-che Imelda Yennita untuk menshare ulang disini Buddha.id (Situs Berita Buddhis Indonesia), tentunnya dengan harapan semoga artikel ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.

Tidak Ada Yang Lolos Dari Akibat Kamma Buruk

Pada suatu hari ada tiga kelompok Bhikkhu yang dalam perjalanan mereka untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha Gotama dari tempat asal dan melalui jalan yang berbeda. Para Bhikkhu dari kelompok pertama berhenti di sebuah desa. Beberapa penduduk desa memasak makanan untuk didanakan kepada para Bhikkhu. Salah satu rumah di desa itu terbakar dan suara tanda kebakaran berkumandang di udara.

Pada saat itu, seekor burung gagak terbang dan mematuk tanda kebakaran, lalu jatuh mati di tengah-tengah desa. Para Bhikkhu melihat burung gagak yang telah mati berpendapat bahwa hanya Sang Buddha Gotama yang dapat menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan oleh burung gagak sehingga ia mati dengan cara itu. Setelah menerima dana makanan, mereka melanjutkan perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha Gotama, dan juga untuk bertanya mengenai burung gagak yang malang itu.

Kelompok para Bhikkhu yang kedua, melakukan perjalanan dengan menggunakan sebuah kapal dengan tujuan yang sama, yaitu untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha Gotama. Ketika mereka sedang berada di tengah lautan, kapalnya tiba-tiba tidak dapat bergerak. Lalu undian dilakukan untuk menemukan siapa yang membuat kesialan. Tiga kali undian, hasilnya istri kapten dianggap pembawa kesialan.

Wanita itu dilempar ke dalam laut sesuai perintah kapten dan kapal dapat berlayar kembali. Setibanya di tempat tujuan mereka, para Bhikkhu turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan mereka untuk menghadap Sang Buddha Gotama. Mereka juga berniat untuk bertanya kepada Sang Buddha Gotama, perbuatan jahat apa yang menyebabkan wanita malang itu dilempar ke laut.

Kelompok para Bhikkhu yang ketiga terdiri dari tujuh orang Bhikkhu dalam perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha Gotama. Mereka meminta keterangan pada sebuah vihara, di mana terdapat tempat yang layak untuk berteduh pada malam hari di sekitar sana. Kepada mereka ditunjukkan sebuah goa, dan di sana mereka bermalam.

Tetapi di tengah malam sebuah batu karang yang besar jatuh dari atas dan menutupi jalan keluar masuk goa. Pada pagi harinya, para Bhikkhu dari vihara di daerah sekitar goa datang melihat apa yang terjadi dan mereka membawa orang-orang dari tujuh desa. Dengan bantuan penduduk desa mereka mencoba menggeser batu karang tersebut, tetapi usaha itu tidak ada gunanya.

Dengan demikian, ketujuh Bhikkhu tersebut terjebak di dalam goa tanpa makanan dan minuman selama tujuh hari. Pada hari ketujuh, batu karang itu secara ajaib bergerak sendiri, dan para Bhikkhu yang terkurung bisa keluar dari goa, serta melanjutkan perjalanan mereka menghadap Sang Buddha Gotama. Mereka juga berniat untuk bertanya kepada Beliau, kejahatan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya, sehingga mereka terkurung selama tujuh hari di dalam goa.

Ketiga kelompok Bhikkhu yang melakukan perjalanan itu bertemu saat mendekati akhir perjalanan, dan mereka bersama-sama menghadap Sang Buddha Gotama. Tiap kelompok menceritakan kepada Sang Buddha Gotama, apa yang telah mereka lihat dan alami dalam perjalanannya. 
Sang Buddha Gotama menjawab pertanyaan kelompok pertama: "Para Bhikkhu, dahulu kala ada seorang petani yang mempunyai seekor lembu jantan yang sangat malas dan keras kepala, kerjanya hanya berbaring mengunyah jerami atau tidur. Petani tersebut akhirnya hilang kesabarannya. Dengan marah ia mengikatkan tali jerami di sekeliling leher lembu dan membakarnya. Lembu jantan itu pun mati. Disebabkan hal ini petani tersebut menderita lama sekali di alam neraka, dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, ia mati terbakar pada akhir kehidupan ketujuhnya."
Setelah itu Sang Buddha Gotama menjawab pertanyaan kelompok kedua: "Para Bhikkhu, saat itu terdapat seorang wanita yang mempunyai anjing peliharaan. Ia selalu membawa anjing tersebut bersamanya ke mana pun ia pergi. Di kota itu ada pemuda-pemuda yang selalu menggoda perempuan itu dan anjingnya, sehingga ia merasa marah dan sangat malu. Akhirnya ia merencanakan untuk membunuh anjingnya. Ia mengisi sebuah pot dengan pasir, mengikatnya di leher anjing tersebut, melemparkannya ke dalam sungai, dan anjing itu pun tenggelam. Akibat dari perbuatan jahatnya itu, wanita tersebut menderita dalam waktu lama di alam neraka, dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, ia telah dilempar ke dalam laut, dan tenggelam pada akhir kehidupan keseratusnya."
Sang Buddha Gotama menjawab pertanyaan kelompok ketiga: "Para Bhikkhu, saat itu tujuh orang gembala melihat seekor iguana masuk ke dalam anak bukit, dan mereka menutup ketujuh jalan keluar dari anak bukit tersebut dengan ranting-ranting dan cabang-cabang pohon. Setelah menutup ketujuh jalan keluar, mereka pergi dan melupakan iguana yang terperangkap di dalam anak bukit tersebut. Tujuh hari kemudian, mereka teringat apa yang telah mereka lakukan dan dengan cepat kembali ke tempat perbuatan usil mereka dan mengeluarkan iguana tersebut. Akibat dari perbuatan jahat ini, ketujuh orang itu telah dikurung bersama selama tujuh hari tanpa makanan dan minuman." 

Kemudian para Bhikkhu berkata: "Oh, memang benar ! Tidak ada tempat pelarian dari akibat kejahatan bagi orang yang telah melakukan perbuatan jahat, walaupun ia berada di langit, atau di tengah samudra, ataupun di dalam goa.

Kepada mereka Sang Buddha Gotama berkata: Benar, Bhikkhu! Kamu benar, walaupun di langit atau di mana saja, tidak ada tempat yang tidak terjangkau oleh akibat kejahatan. Kemudian Sang Buddha Gotama membabarkan bait berikut:

"Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di mana pun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya."

Semua Bhikkhu dari ketiga kelompok tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah ini berakhir.

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate