24 Agustus 2016

Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran

Buddha.id - Namo buddhaya, semoga teman-teman seDhamma sehat dan berbahagia selalu. Pada kesempatan yang baik ini saya ingin berbagi artikel tentang Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran yang saya dapatkan dari Che-Che Imelda Yennita (Facebook).

Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran, sebuah kisah cerita yang sangat bagus yang harus kita petik nilai kebaikannya, bahwa dalam hidup ini teruslah berbuat kebajikan agar kita dapat terhindar dari penderitaan.

#Perbuatan Menentukan Tempat Kelahiran

Pada suatu hari ada seorang penggosok permata dan istrinya yang tinggal di Savatthi. Di sana juga berdiam seorang Thera yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Setiap hari pasangan ini memberi dana makanan kepada Thera itu.

Suatu hari saat penggosok permata itu sedang memegang daging, utusan Raja Pasenadi dari Kosala tiba dengan sebutir ruby, yang minta dipotongkan dan diasah sampai mengkilap.

Si penggosok permata mengambil ruby dengan tangannya yang berbekas darah, dan meletakkannya di atas meja serta pergi ke dalam rumah untuk mencuci tangannya. Burung peliharaan keluarga ini melihat darah melumuri ruby, mengira barang itu adalah sepotong daging, lalu mematuk dan menelannya di hadapan Sang Thera.

Ketika penggosok permata selesai mencuci tangannya, ia menemukan bahwa ruby tersebut telah hilang. Ia bertanya kepada istri dan anaknya, dan mereka menjawab bahwa mereka tidak mengambilnya. Kemudian ia bertanya kepada Sang Thera dan Sang Thera juga tidak mengambilnya, tetapi ia merasa tidak puas, karena tidak ada orang lain di rumah itu.

Penggosok permata berkesimpulan pastilah Sang Thera yang telah mengambil ruby yang berharga tersebut. Lalu ia memberitahu istrinya, bahwa ia harus menyiksa Sang Thera agar mengakui sebagai pencurinya.

Tetapi istrinya menjawab: "Thera ini telah menjadi pembimbing dan guru kita selama dua belas tahun, dan kita tidak pernah melihat Thera itu melakukan perbuatan jahat apa pun. Janganlah menuduh Thera itu. Lebih baik kita menerima hukuman dari raja, daripada menuduh orang suci."

Tetapi sang suami tidak mendengarkan kata-kata istrinya. Ia mengambil tali dan mengikat Thera itu serta memukulnya berkali-kali dengan sebuah tongkat, sehingga banyak darah berceceran. Burung penggosok permata melihat darah, lalu berharap untuk mematuknya.

Burung itu datang mendekat pada Sang Thera. Si penggosok permata yang pada saat itu sangat marah, menyepak burung itu dengan sekuat tenaganya, sehingga burung itu mati seketika. Kemudian Thera itu menanyakan apakah burung itu mati atau tidak.

Ketika Thera yakin bahwa burung itu telah mati, ia mengatakan dengan pelan: "Muridku, burung itulah yang telah menelan ruby tersebut." Setelah mendengar hal itu penggosok permata membelah badan burung tersebut, dan menemukan ruby di dalam perutnya.

Penggosok permata menyadari bahwa ia telah bersalah dan menggigil ketakutan. Ia memohon kepada Sang Thera untuk mengampuninya dan terus menerima dana makanan di muka pintu rumahnya. Kemudian Thera itu menjawab: "Muridku, ini bukanlah kesalahanmu dan juga bukan kesalahanku. Ini terjadi disebabkan oleh apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan lampau.

Ini hanyalah hutang kita dalam proses kehidupan. Saya tidak sakit hati terhadapmu, fakta ini terjadi karena saya memasuki rumah. Mulai hari ini, saya tidak akan memasuki rumah manapun, saya hanya akan berdiri di depan pintu." Sesaat setelah Thera mengucapkan kata-kata itu, Thera meninggal dunia akibat luka-lukanya.

Mendengar hal ini, para Bhikkhu menanyakan kepada Sang Buddha Gotama, di mana pelaku kisah ini akan terlahir kembali? Sang Buddha Gotama menjawab: "Burung ini terlahir kembali sebagai putra penggosok permata, penggosok permata akan terlahir kembali di alam neraka.

Istri penggosok permata terlahir kembali di salah satu alam dewa; sedangkan Sang Thera, yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat pada kehidupannya saat ini, merealisasi Kebebasan Akhir. Kemudian Sang Buddha Gotama membabarkan bait berikut:

Sebagian orang terlahir melalui kandungan, pelaku kejahatan terlahir di alam neraka, orang yang berkelakuan baik pergi ke surga, dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai Nibbana.

Terima kasih sudah membaca. Semoga artikel bermanfaat, Jika berkenan Anda juga bisa memberikan sedikit Donasi  , untuk kemajuan dan perkembangan situs ini. Salam Metta  _/||\_

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate