20 Juli 2016

Makna Hari Suci Asadha

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Buddha.id - Namo Buddhaya, jika sebelumnya kita sudah melihat Gallery Foto Asadha Agung 2560 BE/2016 di Candi Borobudur dan pada kesempatan yang baik ini kita  akan memahami Makna Hari Suci Asadha.

Makna Hari Suci Asadha

Sebenarnya empat hari besar dalam agama Buddha pernah saya tulis disini Mengenal Hari Besar Dalam Agama Buddha , namun menurut saya penjabarannya kurang lengkap dan oleh sebab itu untuk mengetahui Makna Hari Suci Asadha bisa simak dibawah ini.

Hari Suci Āsādha merupakan peristiwa yang mempunyai arti sangat penting bagi umat Buddha. Dengan belas kasih Beliau kepada semua makhluk hidup, dan demi manfaat bagi dunia ini, memutar Roda Dhamma nan Agung untuk pertama kalinya, menguraikan Empat Kebenaran Mulia, kepada para bhikkhu Pañcavaggiya, di hutan Isipatana Migadāya dekat kota Bārāṇasī, pada hari purnama di bulan Āsāḷha. Maka sampai saat ini umat Buddha dapat mengenal Buddha Dhamma yang merupakan rahasia kehidupan ini; Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirannya.

Hari suci Āsādha memperingati tiga peristiwa penting, yaitu :
1 . Khotbah pertama Sang Bhagavā kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana Migadāya dekat kota Bārāṇasī.
2 . Pada saat itulah, Mustika Saṅgha muncul pertama kali di dunia.
3 . Lengkapnya Tiratana yaitu: Buddharatana, Dhammaratana, dan Sangharatana.

Khotbah pertama Buddha pada hari suci Āsādha dikenal dengan Dhammacakkapavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma, yang Ia sampaikan kepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana adalah mengenai Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berfaktor Delapan

Empat Kebenaran Mulia itu terdiri atas :
1. [Dukkha Ariyasacca] : Kebenaran Mulia Tentang Duka.
2. [Dukkhasamudaya Ariyasacca] : Kebenaran Mulia Tentang Sebab Duka.
3. [Dukkhanirodha Ariyasacca] : Kebenaran Mulia Tentang Akhir Duka.
4. [Dukkhanirodhagāminī Ariyasacca] : Kebenaran Mulia Tentang Jalan Akhir Duka

Buddha mengajarkan bahwa hidup adalah dukkha atau penderitaan.
Kelahiran adalah penderitaan,
Usia tua adalah penderitaan,
Kematian adalah penderitan,
Kesedihan, ratap-tangis adalah penderitaan,
Kepedihan hati, dan keputus-asaan adalah penderitaan,
Berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah penderitaan,
Terpisah dari yang disenangi adalah penderitaan,
Tidak mendapat apa yang diinginkan adalah penderitaan,
Singkatnya, lima gugusan pembentuk penyebab kemelekatan adalah penderitaan.

Buddha mengajarkan kesenangan (taṇha) inilah, yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemeran, yang menggemari objek di sana-sini, yaitu:

Kāmataṇhā : kesenangan terhadap nafsu indrawi.
Bhavataṇhā : kesenangan terhadap kemenjadian.
Vibhavataṇhā : kesenangan terhadap ketidak-menjadian.

Buddha mengajarkan Kebenaran Ariya tentang musnahnya penderitaan, yaitu:
Musnahnya kesenangan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya kesenangan, terbebas dari kesenangan, tak terikat oleh kesenangan.

Buddha mengajarkan Jalan Tengah, yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yang membuka mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbana.

Inilah Jalan Ariya Berunsur Delapan [Ariya Aṭṭhaṅgika Magga]
1. [Sammādiṭṭhi] : Pandangan Benar.
2. [Sammāsaṅkappo] : Pikiran Benar.
3. [Sammāvācā] : Ucapan Benar.
4. [Sammākammanto] : Perbuatan Benar.
5. [Sammā-ājīvo] : Penghidupan Benar.
6. [Sammāvāyāmo] : Daya Upaya Benar.
7. [Sammāsati] : Perhatian Benar.
8. [Sammāsamādhi] : Konsentrasi Benar.

Jalan Mulia Berfaktor Delapan adalah Kebenaran Mulia Keempat yang menuju Nibbāna. Ini adalah cara hidup yang terdiri dari delapan faktor. Dengan menjalani Jalan ini, kita akan merealisasi akhir duka.

Karena ajaran Buddha adalah ajaran yang logis dan konsisten yang mencakup setiap aspek kehidupan, Jalan Mulia ini juga berlaku sebagai tata cara terbaik menuju kehidupan yang bahagia. Praktik dari Jalan ini membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain; dan ini bukan hanya untuk dipraktikkan oleh mereka yang menyebut diri mereka umat Buddha, tetapi oleh setiap dan semua orang yang memahaminya, tanpa memandang kepercayaan agamanya.

Dalam Ratana Sutta bait kesembilan terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut:
Mereka yang telah menembus Empat Kebenaran Mulia,
Yang telah dibabarkan jelas oleh Yang Berkebijaksanaan Dalam,
Meski masih tergoda, mereka takkan terlahir kedelapan kalinya.
Inilah mustika gemilang pada Saṅgha.
Dengan kebenaran ini, semoga tercapailah kesejahteraan.

Sumber : Sammāditthi

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate