7 Juli 2016

Kisah Hati Welas Asih Melepaskan Kura-Kura, Menyelamatkan Putra 16 Tahun Kemudian

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kisah Hati Welas Asih Melepaskan Kura-kura, Menyelamatkan Putra 16 Tahun Kemudian

Buddha.id - Namo Buddhaya, Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Bila karma baik tengah berbuah bencana didepan mata pun tak berdaya mencelakakan kita. Sebuah Kisah Hati Welas Asih Melepaskan Kura-kura, Menyelamatkan Putra 16 Tahun Kemudian ini menjadi pembuktian jika orang baik akan selalu dilindungi oleh karma baiknya pula.

Kisah Hati Welas Asih Melepaskan Kura-kura, Menyelamatkan Putra 16 Tahun Kemudian

Di kota Jilong - Taiwan ada sebuah toko yang bernama “Yu Yuan Hao” (bersua jodoh bajik). Pemilik toko bernama Pak Lin terkenal sebagai orang yang sangat berbaik hati, penduduk di sekitar daerah itu kebanyakan hidup dengan menangkap ikan.

Pada suatu hari, para nelayan dengan menggunakan jala telah menangkap seekor kura-kura besar yang nantinya diancang-ancang akan disembelih dan dagingnya untuk dijual. Pak Lin yang kebetulan lewat, melihat kura-kura laut yang sedang menanti disembelih tersebut mendongakkan kepalanya dan dijedot-jedotkan ke arah kerumunan orang banyak, kedua matanya mengucurkan air mata, seakan sedang memohon pertolongan.

Pak Tua Lin melihat kejadian ini sekonyong-konyong terbitlah rasa iba, tanpa menghiraukan sejumlah uang banyak yang dikeluarkan, ia kemudian membeli kura-kura laut tersebut, dan meminta bantuan orang untuk melepaskannya kembali ke laut lepas (fang sheng).

Karena rasa khawatir ada yang akan menangkapnya kembali, maka pada cangkang kura-kura itu dituliskan 5 aksara : “Yu Yuan Hao Fang Sheng”, yang sama artinya memohon orang-orang di masa mendatang untuk menaruh belas kasihan, mengurungkan niat jahat, supaya kura-kura ini dapat memperoleh kesempatan hidup, janganlah melukai ataupun membunuhnya dengan semena-mena.

Setelah selesai ditulis, mereka pun melepaskan kura-kura laut tersebut, kerumunan orang banyak menyaksikan kura-kura ini timbul tenggelam di atas permukaan laut, seakan sedang bersembah sujud berterimakasih kepada Pak Tua Lin. Para penduduk sungguh terharu menyaksikan budi pekerti makhluk satwa ini.

Oleh sebab ini semua warga serempak membuat perjanjian, jikalau suatu saat nanti kembali bersua dengan kura-kura laut besar ini maka tidak akan ditangkap, tidak akan disembelih, tidak akan dimakan. Slogan “Tiga Tidak” ini tentu saja ada beberapa individu yang berpikiran sebaliknya, dengan sorot mata sinis dan mencibir, betapa takhayul, duit tersia-siakan terbuang percuma.

Peristiwa ini berselang 16 tahun kemudian, putra kedua Pak Tua Lin yang telah lulus dari universitas Taipei jurusan manajemen, pulang kembali kampung halaman sewaktu masa-masa liburan dengan menumpangi kapal. Saat itu, dalam perjalanan pulang ke rumah kapal tersebut berhadapan dengan arus laut yang berlawanan, sungguh naas kapal yang ditumpangi ikut kandas dan tenggelam ke dalam laut.

Di dalam kapal terdapat lebih dari 100 orang penumpang, di antaranya ada lebih dari 90 penumpang turut ditelan ombak lautan.

Saat kapal mulai tenggelam, terdengar jeritan histeris dimana-mana meminta pertolongan yang sungguh memekakkan telinga. Walaupun putra Pak Tua Lin bisa berenang sedikit, tetapi ombak lautan terlampau besar sehingga berulang kali masuk ke pusaran air laut, demikianlah ia bergumul dengan ombak laut yang ganas.

Tiba-tiba dia merasakan badannya seperti ditopang terangkat ke atas oleh sebuah benda besar seperti bentuk meja bundar yang muncul dari arah bawah, sekali dipandang, ternyata dirinya sendiri sedang rebah di atas punggung kura-kura besar, diperhatikan dengan lebih seksama lagi, mulut kura-kura tersebut besarnya seperti wajah manusia saja.

Ia terkejut bukan main, dia berpikir kali ini pasti tamatlah sudah riwayatnya di dalam perut kura-kura tersebut. Kemudian dia berencana membalikkan badan, terus lompat masuk ke dalam air, akan tetapi saat itu dirinya sendiri telah tiada bertenaga lagi untuk berontak.

Kemudian, entah sudah berjalan berapa lama, pada saat mau membalikkan badannya ia tak sengaja melihat, di atas punggung kura-kura laut itu ternyata ada tulisan 5 kata : “Yu Yuan Hao Fang Sheng”. Barulah dia tahu, ternyata inilah kura-kura yang dahulu dilepaskan sang ayah.

Segera saja perasaan hati yang sebelumnya penuh duka nelangsa dan ketakutan yang amat sangat berubah menjadi rasa suka cita tak terhingga dan merasakan ketenteraman, ternyata kura-kura laut ini datang untuk menolong dirinya.

Menyadari akan hal ini kemudian ia mendekap erat kura-kura laut tersebut, dan membiarkan dirinya dibawa di atas punggung kura-kura itu, sembari mulut melafalkan nama suci Buddha, memohon perlindungan keselamatan.

Kura-kura laut dengan santai dan leluasanya menggerakkan keempat kakinya, seperti sedang mendayuh sampan saja, menerobos ombak besar membawanya mendekati permukaan, sebelum tiba di permukaan, putra Pak Tua Lin melompat dan mendarat di atas permukaan pasir dangkal, ia kembali memalingkan mukanya ke arah laut, tampak kura-kura tersebut masih terapung-apung di atas permukaan laut.

Putra Pak Tua Lin kemudian merangkapkan kedua tangannya, sebagai tanda ucapan terima kasih atas budi penyelamatan jiwa. Sang kura-kura turut mendongakkan kepalanya, mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti sedang membalas salam tadi, serta mengayun-ayunkan kaki dan membuka mulutnya, bunyi suara yang dikeluarkan seakan sangat mensyukuri dan bergembira, kemudian sang kura-kura membalikkan badan kembali berenang menuju laut lepas, penduduk yang ada di sekitar buru-buru datang menghampiri memberikan ucapan selamat.

Pada peristiwa musibah laut kali ini, hanya tersisa 10 orang lebih penumpang yang masih hidup, ketika diteliti, ternyata mereka semua adalah kumpulan anak yang berbakti, wanita yang berbudi luhur, dan orang-orang yang kesehariannya gemar berbuat amal, bisa disimpulkan Langit akan melindungi orang yang penuh kebajikan, serta turut akan melindungi keturunan daripada orang-orang budiman tersebut.

Pada saat penduduk desa mengetahui peristiwa ini, sontak semuanya merasa sangat terharu, serta mensyukuri buah perbuatan kebajikan, sebelumnya memang ada peramal yang memberitahu Pak Tua Lin bisa hidup hingga berumur 70 tahun, yang terjadi adalah ternyata Pak Tua Lin hidup hingga berumur 88 tahun, dan kepergiannya pun disertai pertanda baik tanpa penderitaan penyakit.

Penduduk sesepuh di daerah tersebut hingga sekarang masih gemar membincangkan peristiwa nyata yang mengharukan ini, peristiwa ini telah dicatat dengan mendetil pada majalah bahasa mandarin “Karya Amitabha” edisi ke-77.

Hukum karma tidak akan pernah meleset, pada lautan samudra yang begitu membentang luas, bagaimanakah kura-kura tersebut tahu akan terjadi musibah? Dan bagaimana pula bisa mengetahui putra kedua dari orang yang berbudi kepadanya akan mengalami kemalangan di laut? Mereka tidak pernah bertemu, bagaimana mungkin kura-kura laut bisa menemukannya di samudra lautan yang begitu luas, untuk kemudian menopang dan mengangkutnya pergi? Dengan tenaga manusia sekalipun, tidak ada yang bisa menjamin proses pencarian akan berjalan lancar tanpa hambatan.

Alangkah luar biasanya kesadaran spiritual dan sifat keBuddhaan segenap insan! Jalinan Nidana dan karma vipaka sungguh tak terperikan pula! Kura-kura laut bisa mengerti budi, dan lantas membalas budi, tidak memedulikan amukan gelombang laut nan ganas, menerjang bahaya untuk mengantar putra sang penolong selamat pulang ke rumah, semangat seperti, belum tentu dimiliki sesama manusia.

Betapa layaknya untuk diberikan penghormatan kepadanya! Sang Buddha mengajarkan kita untuk turut berbahagia atas setiap perbuatan kebajikan, agar senantiasa belajar kepada sifat kebajikan dari segenap insan.

Sutra Avatamsaka membabarkan : “Segenap Insan di Enam Alam Kehidupan, tidak peduli golongan makhluk apapun, selama mereka memiliki perbuatan berpahala, bahkan pahala sekecil debu sekalipun, kita selayaknya turut berbahagia dan memberikan sanjungan, belajar dari teladan mereka, seluruh insan tanpa kecuali memiliki sifat kebajikan untuk dijadikan suri teladan, jika penghormatan pun sudah tidak terburu, maka bagaimanakah mungkin hati sanggup mencelakai mereka?” Kita telah menyaksikan Pak Tua Lin, yang pada saat itu tidak tega hati melihat kura-kura mengalami derita penyembelihan sehingga mau menyelamatkan kura-kura tersebut, melepaskannya kembali ke laut supaya ia memperoleh hidupnya kembali.

Sedangkan setelah berselang 16 tahun, peristiwa yang terjadi telah membuktikan : Dia sendirilah yang telah menyelamatkan anaknya sendiri, melepaskan anaknya sendiri untuk peroleh hidup kembali.

Demikianlah Kisah Hati Welas Asih Melepaskan Kura-kura, Menyelamatkan Putra 16 Tahun Kemudian, semoga artikel bermanfaat dan membuat kita terus menambah perbuatan baik dengan menolong semua makhluk. Salam Metta!

Sumber : http://tbskyindonesia.blogspot.co.id/

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate