16 Mei 2016

Pesan Waisak 2560 EB/2016 Sangha Agung Indonesia

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Pesan Waisak 2560 EB/2016 Sangha Agung Indonesia

Buddha.id - Namo Buddhaya, Jakarta, Indonesia – Dalam Pesan Waisak 2560 EB/2016 Sangha Agung Indonesia (SAGIN), proses transformasi diri dan transformasi sosial menjadi pembahasan utama untuk perayaan Hari Waisak (Vesak) tahun ini.


Menurut SAGIN, proses transformasi diri dan transformasi sosial menjadi penting dalam upaya melakukan dan menepis tindakan radikal dan perilaku kejam (teroris) terhadap kemanusiaan. Dan melalui pembiasaan dan pelatihan mindfulness (kesadaran penuh) yang terus-menerus akan dapat mengubah diri sendiri.

Memahami ajaran ketidakkekalan (anicca) memainkan peran sentral dalam pola pikir Buddhis, dan perenungan terhadap ketidakekalan merupakan sebuah latihan pokok.

Dengan mengangkat tema “Transformasi Mental dengan Damai dan Harmoni”, berikut Pesan Waisak Sangha Agung Indonesia yang ditanda tangani oleh ketua umunya, Y.M. Mahathera Nyanasuryanadi pada 29 April 2016 di Jakarta.

PESAN WAISAK 2560 BE/2016 SANGHA AGUNG INDONESIA

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya

TRANSFORMASI MENTAL DENGAN DAMAI DAN HARMONI

Purnamasiddhi di bulan Waisak telah tiba. Bulan purnama yang di tunggu oleh umat Buddha untuk mengingat dan merenungkan makna spiritual dan semangat dalam tiga peristiwa besar sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha.
Tiga peristiwa ini adalah lahirnya Pangeran Siddharta Gotama di Lumbini, di taman yang indah tahun 623 SM. Beliau adalah Bodhisatta yang turun ke bumi dari surga Tusita untuk menjadi Buddha (M.III.120).

Pencapaian Pencerahan Sempurna (sammāsambuddha) Bodhisatta Siddharta Gotama atau keberhasilan dalam merealisasi Nibbana dan menjadi Buddha di Bodhgaya, di bawah pohon Bodhi tahun 588 SM (M.I.249).

Meninggal (parinibbana) Buddha Sakyamuni di Kusinara di antara dua pohon Sala kembar tahun 543 SM (D.II.156). Tiga peristiwa besar yang terjadi pada purnama di bulan Waisak merupakan totalitas kehidupan yang penuh dengan dedikasi dan karya besar bagi spiritual dan kemanusiaan merupakan transformasi mental dengan damai dan harmoni.
Buddha telah menunjukan jalan spiritual untuk menyeberangi lautan samsara menuju pembebasan. Pencapaian kesempurnaan merupakan proses transformasi secara bertahap yang dapat direalisasi oleh semua manusia.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini telah mampu menciptakan kendali yang sangat hebat terhadap alam, namun kekuatan ini tanpa kendali kebijaksanaan sangatlah berbahaya. Maka diperlukan kemampuan melihat perubahan dengan menyeimbangkan kemampuan modern dengan kebijaksanaan kuno yang telah direalisasi oleh Buddha.

Buddha Sakyamuni telah mengajarkan hukum perubahan (anicca) dan saling ketergantungan agar kita dapat merealisasi kebenaran ini secara bertahap. Sikap mental seseorang merupakan faktor utama dalam pencapaian keberhasilan dan kesuksesan.

Proses transformasi terjadi setiap saat tanpa pernah berhenti, kemampuan memahami perubahan sebagaimana mestinya merupakan praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh kesadaran. Lewat pembiasaan dan pelatihan mindfulness yang terus-menerus akan dapat mengubah diri sendiri. Pelatihan batin yang sistematis akan menumbuhkan kebahagiaan, sehingga transformasi mental yang asli lewat pemilihan dan pemusatan perhatian penuh dengan sengaja pada sikap-sikap mental positif dan pemahaman mendalam terhadap sikap-sikap mental negatif.

Mengubah cara memandang diri sendiri, melalui belajar dan memahami dapat menghasilkan dampak yang sangat nyata pada cara kita berinteraksi dengan orang lain dan cara menjalani hidup sehari-hari.

Proses transformasi diri dan transformasi sosial menjadi penting dalam upaya melakukan dan menepis tindakan radikal dan perilaku kejam (teroris) terhadap kemanusiaan. Tindakan radikal, kekerasan, dan teror, secara alamiah, tidak benar bila mengatakan bahwa kita dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk perang atau berbuat kejam. Kecenderungan untuk membentuk ikatan yang akrab dengan sesama, mengusahakan kesejahteraan orang lain selain diri sendiri, berakar kuat dalam sifat dasar manusia.

Mengulurkan tangan menolong orang lain sama mendasarnya dengan kecenderungan alami untuk berkomunikasi, semua orang dilahirkan dengan benih kasih dalam diri, mampu mengendalikan emosi-emosi mereka sendiri, dan meneladankan sikap pengasih.

Tekad yang teguh untuk transformasi mental dengan damai dan harmoni dapat belajar mengambil langkah-langkah positif untuk membangun hidup bahagia. Memahami konsep ketidakkekalan (inpermanence) memainkan peran sentral dalam pola pikir Buddhis, dan perenungan ini merupakan sebuah latihan pokok. Kontemplasi atau perenungan tentang ketidakkekalan mempunyai dua fungsi utama yang vital dalam jalan ke-Buddha-an.

Pertama pada tataran paling mendasar atau dalam pengertian sehari-hari perenungan ketidakkekalan diri sendiri pada kenyataanya hidup ini berubah dan tidak pernah tahu kapan kita mati. Ketika perenungan ini dipadukan dengan keyakinan tentang istimewanya kehidupan manusia dan kemungkinan dicapainya kebebasan spiritual, pembebasan dari penderitaan dan siklus kelahiran kembali yang tiada akhir, perenungan ini berfungsi meningkatkan kesadaran untuk menggunakan waktu sebaik mungkin, dengan menjalankan latihan-latihan batin yang membawa pembebasan.

Kedua pada tataran lebih mendalam, perenungan tentang aspek-aspek ketidakkekalan yang lebih samar, semua gejala alam, merupakan tahap pencarian seseorang untuk memahami sifat dasar realitas sejati dan melalui pemahaman ini akan membuang kebodohan sebagai sumber utama penderitaan.

Perenungan terhadap perubahan ini mempunyai makna yang nyata sekali dalam kehidupan umat Buddha. Apabila memandang konsep ketidakkekalan dari sudut pandang perubahan berarti mempunyai aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan yang tetap ada adalah bahwa hidup senantiasa berubah. Sikap menerima, atau mengakui bahwa perubahan adalah suatu yang alami dalam interaksi interaksi dengan orang lain, dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam hubungan kita.

Faktor utama yang memungkinkannya mengatasi situasi sulit dengan damai dan harmoni adalah kemampuan mengubah perspektif (cara pandang) situasinya dari titik pandang yang berbeda. Dengan mempraktikkannya orang dapat menggunakan pengalaman tertentu, tragedi tertentu untuk mengembangkan kedamaian batin.

Secara umum begitu anda masuk ke dalam situasi sulit, mustahil mengubah sikap anda hanya dengan menerapkan sikap sekali atau dua kali pola pikir yang berbeda. Perubahan hanya terjadi lewat belajar, berlatih, dan membiasakan diri dengan cara pandang baru yang memungkinkan anda mengatasi kesulitan itu.

Menatap kebahagiaan sebagai sebuah sasaran yang nyata dan keputusan yang sadar untuk merealisasikan secara sistematis dapat mendatangkan perubahan (transformasi) besar sekali pada sisa hidup kita.

Kata kunci memahami kondisi yang alamiah seperti kelahiran, penuaan, sakit, kematian, berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan, berpisah dengan apa yang menyenangkan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan (S.V.422). Penderitaan anda akan menghasilkan sebuah makna baru karena digunakan sebagai landasan bagi suatu latihan religius atau latihan rohani.

Proses transformasi membutuhkan keyakinan, tekad, aksi, dan usaha. Belajar dan pendidikan penting karena kegiatan ini membantu mengembangkan keyakinan tentang perlunya berubah dan meningkatkan komitmen.

Keyakinan untuk berubah ini selanjutnya berkembang menjadi tekad. Berikutnya, orang mengubah tekad menjadi aksi, tekad yang kuat untuk berubah memungkinkan seseorang berusaha secara berkelanjutan untuk menerapkan perubahan-perubahan penting dan akhirnya usaha merupakan faktor penting yang menentukan transformasi dengan damai dan harmoni.

Latihan meditasi ketenangan dan sadar penuh (satipaṭṭhana) merupakan upaya untuk menepis sikap-sikap mental negatif seperti kebodohan, kebencian, dan keserakahan, kemudian menumbuhkan sikap-sikap positif seperti cinta kasih, welas asih, simpati, keseimbangan batin, dan toleransi.

Semoga momentum Waisak 2560 BE tahun 2016 ini menginspirasi pentingnya menumbuhkembangkan kekuatan keyakinan, usaha, kesadaran, samadi, dan kebijaksanaan agar kita dapat meneladani Buddha di dalam proses transformasi mental dengan damai dan harmoni. Semoga semu makhluk hidup berbahagia.

Sadhu! Sadhu! Sadhu!

Jakarta, 29 April 2016

Mettacittena,
SANGHA AGUNG INDONESIA

Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum

Demikianlah isi pesan Waisak 2560 EB/2016 dari Sangha Agung Indonesia.[ Sumber Informasi dan Images Bhagavant ]

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate