13 Februari 2016

Nalagiri, Si Gajah Pembunuh

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Naḷagiri, Si Gajah Pembunuh

Buddha.id - Sebelum saya memposting cerita Buddhis ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Facebooknya Sammāditthi sebab dari sanalah blog ini banyak mengambil konten tentang kisah Buddhis yang saya bagikan kembali di blog sederhana ini.

Kisah Buddhis kali ini tentang Nalagiri, Si Gajah Pembunuh apakah kawan-kawan sudah pada tau ceritanya ? jika belum mari bersama-sama kita membacanya atau kalau tidak keberatan bisa kawan-kawan bagikan kepada teman lainnya, berikut kisahnya :
Janganlah congkak dan lalai! Yang lalai tak akan terlahir di alam bahagia. Jika engkau tak lalai seperti itu, engkau akan menuju ke alam bahagia.
Suatu ketika, Bhikkhu Devadatta menghadap Yang Terberkahi dan meminta-Nya untuk menyerahkan kepemimpinan Saṁgha Bhikkhu kepadanya, namun Yang Terberkahi menolak permintaannya dengan berkata bahwa Ia bahkan tak akan menyerahkannya kepada Bhikkhu Sāriputta atau Bhikkhu Moggallāna, jadi Ia pasti tak akan menyerahkannya pada orang jahat, penjilat ludah seperti dirinya.

Bhikkhu Devadatta sangat marah dan bersumpah akan membalas dendam pada Yang Terberkahi. Ia menghasut Pangeran Ajātasattu untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisāra, agar bisa menobatkan diri sebagai raja di Magadha. Sementara itu, Bhikkhu Devadatta bersiasat membunuh Yang Terberkahi.

Dengan bantuan Raja Ajātasattu, Bhikkhu Devadatta mengutus beberapa pemanah istana untuk membunuh-Nya. Namun ketika para pemanah itu berjumpa dengan Yang Terberkahi, mereka melemparkan senjatanya dan teralihyakinkan secara spiritual. Ketika siasat ini gagal, Bhikkhu Devadatta melancarkan usahanya yang kedua.

Ia mendorong sebongkah batu cadas yang sangat besar untuk menimpa Yang Terberkahi, yang saat itu tengah berjalan di bawah lereng Bukit Gijjhakūṭa. Batu cadas itu tak berhasil menimpa Yang Terberkahi, namun sebuah serpihan batu mengenai kaki Yang Terberkahi dan mengakibatkan-Nya berdarah.

Jīvaka, sang tabib, mengobati-Nya dengan mengoleskan getah penciut di kaki-Nya; dengan segera kaki-Nya sembuh. Tatkala siasat yang kedua gagal juga, Bhikkhu Devadatta berpikir: “Tak mungkin bagi siapa pun untuk mendekati dan membunuh Yang Terberkahi jika orang itu melihat keagungan-Nya. Namun, masih ada Nāḷāgiri, gajah milik Raja Ajātasattu, yang keji, bengis, dan suka membunuh. Gajah ini sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kebajikan Buddha, Dhamma, dan Saṁgha.

Gajah bengis ini pasti akan bisa menghabisi Yang Terberkahi.” Dengan berpikir seperti itu, Bhikkhu Devadatta menghadap Raja Ajātasattu dan menceritakan siasatnya yang ketiga. Karena masih muda dan kurang bijaksana, Raja Ajātasattu mengabulkan permintaannya untuk memanfaatkan Nāḷāgiri sebagai alat guna menjalankan siasat jahat itu.

Raja memanggil pawang gajah dan memerintahkannya untuk memberi Nāḷāgiri minum delapan gentong minuman keras keesokan paginya. Lalu, dengan bunyi tambur, Raja Ajātasattu mengumumkan bahwa besok seluruh warga harus menjalankan kegiatannya pagi-pagi dan jangan berkeliaran di jalanan karena si gajah bengis Nāḷāgiri akan dilepaskan di dalam kota.

Karena kurang puas terhadap perintah raja, Bhikkhu Devadatta mendekati pawang gajah di kandang gajah itu dan berkata: “Kami dikenal sangat berpengaruh terhadap raja. Jika engkau berhasil menjalankan tugas ini dengan baik, engkau akan memperoleh kenaikan pangkat, gajimu akan naik, dan engkau juga akan mendapatkan hadiah-hadiah lainnya.

Beri Nāḷāgiri enam belas gentong minuman keras pagi-pagi supaya ia bertambah ganas, lalu lepaskan gajah itu ke jalanan agar merangsak maju berlawanan dengan arah Bhikkhu Gotama berjalan menerima dana makanan.” Pawang gajah itu mengikuti perintahnya dan berkata: “Baiklah, Tuan.” Umat awam yang mendengar berita itu segera menghadap Yang Terberkahi dan berkata: “Bhante, raja telah dihasut Bhikkhu Devadatta untuk melepaskan si gajah ganas Nāḷāgiri ke jalanan di Rājagaha besok pagi.

Jadi mohon Bhante jangan pergi mengumpulkan dana makanan di kota besok. Sebagai gantinya, kami akan datang dan membawakan makanan bagi Bhante dan para bhikkhu disini.” Yang Terberkahi menerima undangan untuk makan di Wihara Veḷuvana, namun Ia tidak berkata bahwa Ia tak akan pergi ke Rājagaha.

Setelah para umat awam itu pergi, Yang Terberkahi melakukan tugas harian-Nya yaitu memberikan ajaran kepada para bhikkhu pada malam waktu jaga pertama; dan pada malam waktu jaga pertengahan, Ia mengajar para dewa dan brahmā serta menjawab pertanyaan mereka.

Lalu, pada malam waktu jaga terakhir, ketika Yang Terberkahi tengah memindai semesta, Ia melihat dengan jelas dalam pandangan-Nya bahwa saat Ia memberikan ajaran kepada Gajah Nāḷāgiri, delapan puluh ribu makhluk akan menyadari Empat Kebenaran Mulia dan akan terbebaskan. Saat fajar, setelah bangkit dari meditasi-Nya, Ia memanggil Bhikkhu Ānanda dan berkata: “Ānanda, panggillah semua bhikkhu yang tinggal di delapan belas wihara di sekitar Rājagaha untuk ikut dengan Saya pergi ke dalam kota!” Pagi itu, Yang Terberkahi pergi ke Rājagaha dengan diiringi banyak bhikkhu. Ketika pawang gajah melihat mereka, segera ia melepaskan Nāḷāgiri ke jalanan.

Dengan segera, gajah itu melihat Yang Terberkahi tengah datang dari kejauhan. Seraya mengangkat belalai dan dengan telinga dan ekor yang lurus, ia merangsak sambil berteriak nyaring ke arah Yang Terberkahi dan menghancurkan apa saja yang menghalanginya.

Orang-orang berlarian ketakutan melihat amukan gajah ganas ini. Melihat Nāḷāgiri menyerang, para bhikkhu memperingatkan Yang Terberkahi: “Bhante, si gajah bengis Nāḷāgiri, pembunuh orang, sudah lepas dan sedang datang lewat jalan ini. Bhante, biarlah Yang Terberkahi kembali! Bhante, biarlah Yang Mahasuci kembali!” “Mari, Para Bhikkhu, janganlah takut! Tak mungkin bagi siapa pun untuk membunuh para Buddha dengan kekerasan.

Para Buddha mencapai Parinibbāna bukan karena kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun atau apa pun.” Untuk kedua dan ketiga kalinya, para bhikkhu yang cemas itu memperingatkan Yang Terberkahi, namun mereka mendapatkan jawaban yang sama.

Saat itu, banyak sekali orang yang berada di istana, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk tengah menunggu dengan was-was. Mereka yang yakin dan merasa pasti, yang bijaksana dan penuh waspada, berkata: “Hari ini kita akan menyaksikan bagaimana sesosok Buddha menundukkan seekor gajah dengan cara menasihatinya.” Akan tetapi, kaum sesat dan orang-orang yang tidak punya keyakinan, yang tidak bijaksana dan tidak waspada, berkata: “Hari ini kita akan menyaksikan bagaimana keagungan Buddha, tubuh Buddha yang bercahaya kuning keemasan akan dihancurkan oleh si gajah bengis Nāḷāgiri, si pembunuh orang.” Kemudian, Bhikkhu Sāriputta berkata: “Bhante, adalah tugas putra sulung untuk menyelesaikan hal apa pun yang menyangkut ayahandanya.

Biarlah saya menjinakkan gajah ini!” Namun, Yang Terberkahi menolak permintaannya: “Sāriputta, kekuatan Buddha tidak sama dengan kekuatan para siswa. Engkau tak perlu repot-repot.” Ketika para siswa suci lainnya menawarkan jasa, Yang Terberkahi juga menolak mereka.

 Akan tetapi, Bhikkhu Ānanda tak lagi mampu menahan diri. Terdorong rasa kasihnya yang sangat besar terhadap Yang Terberkahi dan dengan semangat pengorbanan diri, ia maju dan berdiri di depan Yang Terberkahi untuk melindungi Sang Guru. Namun Yang Terberkahi berkata kepadanya: “Mundurlah, Ānanda! Mundurlah! Jangan berdiri di hadapan Saya!” Bhikkhu Ānanda menjawab: “Bhante, Gajah Nāḷāgiri ini, si pembunuh orang, bengis, liar, dan suka membunuh.

Tak akan saya biarkan dia melukai Yang Terberkahi. Biarlah gajah itu menginjak-injak saya sampai mati!” Yang Terberkahi menasihatinya sampai tiga kali, namun Bhikkhu Ānanda bersikeras tetap berdiri di hadapan-Nya.

Akhirnya, Yang Terberkahi terpaksa menggunakan kekuatan adibiasa-Nya untuk menggusur Bhikkhu Ānanda dan menempatkannya kembali di antara para bhikkhu. Pada saat itu juga, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya melihat gajah mabuk itu datang; ia panik dan melarikan diri, namun anak yang berada dalam pelukannya terjatuh ke tanah, di antara Yang Terberkahi dan sang gajah.

Nāḷāgiri serta merta merangsak menuju wanita itu. Namun karena tak mampu mengejarnya, ia berbalik dan menuju ke anak yang tengah menangis keras di tengah jalan itu. Ketika Nāḷāgiri hendak menyerang si anak, Yang Terberkahi melingkupi sang gajah dengan cinta kasih. Dengan suara lembut, Ia berkata: “ Nāḷāgiri, pawangmu telah membuatmu mabuk dengan enam belas gentong minuman keras untuk membunuh-Ku.

Karenanya, janganlah melukai orang lain! Datanglah langsung ke tempat-Ku berada!” Mendengar suara lembut Yang Terberkahi, gajah mabuk itu membelalakkan matanya dan melihat keagungan Yang Terberkahi serta tubuh-Nya yang bercahaya kuning keemasan. Ia menjadi takluk oleh kemuliaan Yang Terberkahi dan mabuknya pun lenyap.

Ia pun menjadi jinak, kesadarannya pulih kembali. Nāḷāgiri menurunkan belalainya. Dengan telinga yang dikepak-kepakkan, ia mendekati Yang Terberkahi dan berdiri di hadapan-Nya. Yang Terberkahi menjulurkan tangan kanan-Nya dan mengelus kening sang gajah. Karena tergetar gembira dengan sentuhan itu, Nāḷāgiri berlutut di hadapan Yang Terberkahi.

Yang Terberkahi melantunkan syair berikut ini: “O Gajah, janganlah menyerang sesosok Gajah Penggading, Karena menyerang Gajah Penggading itu menyakitkan. Tiada kelahiran kelak di alam bahagia, Bagi ia yang mau membunuh Gajah Penggading.” “Janganlah congkak dan lalai! Yang lalai tak akan terlahir di alam bahagia. Jika engkau tak lalai seperti itu, Engkau akan menuju ke alam bahagia.” Gajah Nāḷāgiri sungguh gembira mendengar syair tersebut.

Jika saja ia bukan seekor binatang, ia pasti akan menjadi Sotāpanna saat itu juga. Lalu, ia menghisap debu di kaki Yang Terberkahi dengan belalainya, lalu menaburkannya di kepalanya. Melihat keajaiban ini, orang-orang bertepuk tangan riuh; dengan sukacita mereka menaburkan perhiasan mereka ke tubuh gajah itu sampai menutupi keseluruhan tubuhnya, sebagai hadiah.

Sejak saat itu, sang gajah dikenal sebagai Dhanapāla. Ketika si gajah dijinakkan dengan kesejukan cinta kasih, delapan puluh empat ribu makhluk menyadari Empat Kebenaran Mulia dan terbebaskan. Setelah kejadian ini, Gajah Dhanapāla beringsut mundur selama Yang Terberkahi masih tampak olehnya. Setelah itu, ia kembali ke kandangnya. Sejak saat itu, ia menjadi gajah yang patuh, baik perangainya, jinak, dan lembut sepanjang hayatnya.

 Setelah menjinakkan gajah tersebut, Yang Terberkahi kembali ke Wihara Veḷuvana bersama para bhikkhu. Lalu, para umat awam datang ke wihara itu sambil membawa makanan lezat dan mempersembahkannya kepada Saṁgha Bhikkhu yang dipimpin Yang Terberkahi.

Mereka menyanyikan sebait syair yang penuh sukacita: “Sebagian menjinakkan pihak lain dengan tongkat, Sebagian lain dengan galah penghalau dan cemeti. Namun, Sang Suciwan Agung telah menjinakkan seekor gajah, Tanpa tongkat ataupun senjata.”

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate