13 Februari 2016

Mengenal Jalan Mulia Berunsur Delapan

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Mengenal Jalan Mulia Berunsur Delapan

Buddha.id - Kawan-kawan tentu sudah tidak asing dengan ajaran sang Buddha yang satu ini Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan ajaran yang akan membawa kita dalam kebahagian jika kita benar-benar menjalaninya.

Baca juga : Kitab-Kitab Suci Agama Buddha

Pada kesempatan ini saya akan mengulas kembali tentang pembagian Jalan Mulia Berunsur Delapan ini yang saya dapatkan dari Facebooknya Margareth Wei sebagai berikut :

Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11(S 5.420), Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha.

Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga). Di dalam Jalan ini mengandung unsur Sila (Kemoralan), Samadhi (Konsentrasi), dan Panna (Kebijaksanaan).
Jalan Mulia Berunsur Delapan ini secara tradisional dibagi dalam tiga bagian / kelompok, yang disebut dengan istilah Tiga Latihan (Tisso-Sikka) yaitu :

A. Panna (Kelompok Kebijaksanaan)
Panna dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Pengertian Benar (Samma Ditthi)
2. Pikiran Benar (Samma Sankappa)

Adalah sebagai latihan intelektual / akal budi, dimaksudkan agar kita hendaknya memahami terlebih dahulu secara jelas dan realistis mengenai konsep Empat Kebenaran Mulia, lalu kemudian secara bertahap mengembangkan langkah-langkah lain dari Jalan.

1. Pengertian / Pemahaman Benar (Samma Ditthi)
Adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap :
Empat Kebenaran Mulia, Tiga Corak Umum (Tilakkhana), Sebab musabab yang saling bergantungan (Paticca Samuppada), Hukum Kamma.

2. Pikiran Benar (Samma Sankappa);
Adalah pikiran yang bebas dari : Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu Keduniawian (Nekkhamma Sankappa), Pikiran yang bebas dari kebencian (Avyapada Sankappa), dan Pikiran yang bebas dari Kekejaman (Avihimsa Sankappa)
B. Sila (Kelompok Moral / Kebijaksanaan)

Sila dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
3. Ucapan Benar (Samma Vaca)

4. Perbuatan Benar (Samma Kammanta)

5. Pencaharian Benar (Samma Ajiva)
Adalah merupakan latihan etika, di mana kita menentukan sendiri apa yang baik, kemudian melaksanakannya untuk diri sendiri maupun tindak-tanduk / sikap kita dalam bermasyarakat.
3. Ucapan Benar (Samma Vaca)
Adalah berusaha menahan diri dari :
• Berbohong (Musavada),
• Memfitnah (Pisunavaca),
• Berucap Kasar / Caci maki (Pharusavaca)
• Percakapan yang tidak bermanfaat / pergunjingan / bergosip (Samphapalapa).
Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika memenuhi syarat dibawah ini :
• Ucapan itu Benar,
• Ucapan itu Beralasan,
• Ucapan itu Berfaedah,
• Ucapan itu Tepat pada waktunya.
Sang Buddha bersabda :
“Kata-kata yang mempunyai empat nilai adalah yang diucapkan baik, bukan pembicaraan jahat, tidak salah, dan tidak dicela para bijaksana. Apa empat itu??? Mengenai ini,....
Seseorang berbicara dengan kata-kata yang indah, bukannya buruk;
Seorang berbicara dengan kata-kata yang benar, bukannya salah;
Seseorang berbicara dengan kata-kata yang halus, bukannya kasar ;
Seorang berbicara dengan kata-kata penuh kebenaran, bukan kepalsuan”.
(Sutta Nipata : 449-450)
4. Perbuatan Benar (Samma Kammanta)
Adalah berusaha menahan diri dari :
• Pembunuhan,
• Pencurian,
• Perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (Asusila),
• Perkataan tidak benar,
• Penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
“Semua gemetar pada kekerasan, semua takut kematian, tempatkan dirimu pada tempat orang yang lain. Oleh karenanya jangan membunuh ataupun menyebabkan mereka terbunuh.”
(Dhammapada : 129-130)

5. Mata Pencaharian Benar (Samma-Ajiva)
Berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain.
Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu :
• Makhluk hidup
• SenjataDaging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup.
• Minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan.
• Racun
Dan terdapat pula lima mata pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu :
• Penipuan,
• Ketidaksetiaan,
• Penujuman,
• Kecurangan,
• Memungut bunga yang tinggi (Praktek lintah darat)
C. Samadhi (Kelompok Pemusatan Pikiran/Konsentrasi)
Samadhi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :

6. Upaya Benar (Samma Vayama)

7. Perhatian Benar (Samma Sati)

8. Konsentrasi Benar (Samma Samadhi)
Adalah merupakan latihan kejiwaan, menyadari perubahan batin dari yang bersifat keduniawian ke keadaan batin yang murni.

6. Upaya Benar (Samma Vayama)
Dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu :
• Berusaha mencegah munculnya kejahatan baru,
• Berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada,
• Berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul,
• Berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

7. Perhatian Benar (Samma Sati)
Dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu :
• Perhatian penuh terhadap badan Jasmani (Kayanupassana),
• Perhatian penuh terhadap perasaan (Vedananupassana),
• Perhatian penuh terhadap pikiran (Cittanupassana),
• Perhatian penuh terhadap batin (Dhammanupassana)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassana Bhavana.

8. Konsentrasi Benar (Samma Samadhi)
Berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhavana.
Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Kebenaran, pasti memperoleh :
1. Sila Visuddhi - Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa (Kekotoran batin).
2. Citta Visuddhi - Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana (Rintangan batin).
3. Ditthi Visuddhi - Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Panna dan terkikis habisnya Anusaya (Kecenderungan berprasangka).
Kekotoran Bathin (Asava), dapat dibagi dalam 3 (tiga) golongan besar, yaitu :
1. Kilesa : Kekotoran Bathin yang kasar dan dapat jelas Dilihat atau Didengar.
2. Nivarana : Kekotoran bathin yang agak halus, yang agak sukar diketahui.
3. Anusaya : Kekotoran bathin yang halus sekali dan sangat sukar untuk diketahui.

Semoga Bermanfaat... _/|\_

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate