11 Desember 2015

Jivaka, Sang Tabib Ulung

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Jivaka, Sang Tabib Ulung

Buddha.id - “Saya telah mengatasi segala rasa sakit sejak mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon bodhi.”

Di Rājagaha, ibukota Kerajaan Magadha, tersebutlah seorang gadis jelita yang bernama Sālavatī. Dengan seizin Raja Bimbisāra, ia dipilih sebagai wanita penghibur untuk memeriahkan Kota Rājagaha, sebagaimana halnya Ambapālī di Vesālī. Selang beberapa saat kemudian, Sālavatī akhirnya mengandung bayi laki-laki. Selama kehamilannya, ia selalu berpura-pura sakit bilamana ada tamu yang hendak menemuinya.

Ketika sudah tiba saatnya, Sālavatī melahirkan. Ia langsung memerintahkan pembantunya yang terpercaya untuk menempatkan bayi yang baru lahir itu di dalam keranjang bambu untuk dilemparkan ke tumpukan sampah di tepi jalan. Sudah merupakan kebiasaan pada masa itu bagi wanita penghibur untuk hanya membesarkan bayi perempuan untuk dijadikan wanita penghibur seperti ibunya.

Pada pagi harinya, Pangeran Abhayarājakumāra yang tengah dalam perjalanan untuk menemui ayahnya, Raja Bimbisāra, melihat dari kejauhan sekumpulan burung gagak yang tengah berkoak-koak dan mengerubungi tempat bayi itu ditinggalkan. Ia lalu meminta para pengiringnya untuk menyelidiki: “Pengawal, periksalah apa gerangan yang sedang terjadi di tumpukan sampah itu!”

Para pengawal menuju ke tumpukan sampah itu dan menemukan bayi tersebut. Mereka berkata: “Tuanku, ada bayi laki-laki yang baru lahir!”

“Apakah bayi itu masih hidup?” tanya pangeran.

“Benar, Pangeran, bayi itu masih hidup,” jawab para pengiring.

Hati Pangeran Abhaya tergerak oleh welas asih. Ia memerintahkan agar bayi itu dibawa ke istananya. Bayi itu dirawat oleh para perawat terbaik dan diberi makanan yang terbaik; bayi itu dibesarkan sebagai putra angkatnya. Ia kemudian diberi nama “Jīvaka” karena ditemukan dalam keadaan hidup (jīvati); dan karena ia dibesarkan oleh pangeran, ia dinamai “Komārabhacca”. Karena itu, ia kemudian dikenal dengan nama Jīvaka Komārabhacca.

Setelah beranjak dewasa, Jīvaka merenungkan status dirinya di istana itu. Ia yakin bahwa tidak mungkin baginya untuk tetap tinggal di istana itu tanpa memiliki pengetahuan apa pun. Karena itu ia memutuskan untuk pergi ke Takkasilā tanpa sepengetahuan Pangeran Abhaya. 

Jīvaka mempelajari ilmu pengobatan di bawah bimbingan seorang guru yang terkenal di sana. Dalam waktu singkat, pengetahuannya bertambah banyak.

Setelah berguru selama tujuh tahun, ia berpikir bahwa ilmu yang dipelajarinya tiada habis-habisnya. Ketika ia merundingkan hal ini dengan gurunya, ia diberi sebuah sekop dan diperintahkan masuk ke hutan untuk menelusuri wilayah seluas satu yojana guna mencari tanaman yang tak memiliki khasiat obat sama sekali. 

Segera ia melaksanakan tugas itu, namun ia merasa kecewa karena tidak mampu menemukan tanaman seperti itu. Ia kembali dan melaporkan hal ini, akan tetapi betapa kagetnya ia karena gurunya berkata bahwa pendidikannya sudah tuntas; ia diizinkan untuk mencari nafkah dengan ilmunya semenjak hari itu.

Saat dalam perjalanan kembali ke Rājagaha, tatkala sampai di Sāketa, bekal yang diberikan oleh gurunya habis. Karena itu ia memutuskan untuk menerapkan keahliannya untuk mencari nafkah. Saat itu di Sāketa tersebutlah istri seorang hartawan yang sudah menderita sakit kepala selama tujuh tahun. 

Beberapa tabib terkenal telah mencoba untuk menyembuhkannya, namun ia tak kunjung sembuh. Jīvaka menawarkan diri untuk menyembuhkannya, namun wanita itu menolak tawarannya karena melihat bahwa Jīvaka masih muda. Lagi pula, ia tidak mau lagi membuang uang. Namun, tatkala Jīvaka mengusulkan bahwa ia tidak perlu membayar satu sen pun jika tidak sembuh, ia menyetujuinya. Ia berpikir tidak ada ruginya mencoba. Demikianlah, ia menjadi pasien Jīvaka yang pertama.


Jīvaka memeriksa penyakitnya dengan saksama, lalu menyiapkan obat dari campuran mentega bening dan tumbuh-tumbuhan. Sejenak setelah meminum obat itu, ia sembuh sepenuhnya dari penyakitnya. Ia sangat bahagia karena terbebas dari penderitaan yang telah lama menyiksanya. Untuk itu, tidak saja Jīvaka memperoleh enam belas ribu kahāpaṇa, namun ia juga memperoleh beberapa orang budak dan sebuah kereta dengan kudanya juga.

Setibanya di Rājagaha, Jīvaka mempersembahkan semua uang dan budaknya kepada Pangeran Abhaya, yang telah menyelamatkannya dari tumpukan sampah dan telah membesarkannya. Namun sang pangeran tidak menginginkan semua itu, lalu mengembalikannya; malahan, ia membangun tempat tinggal bagi Jīvaka di dalam lingkungan kediamannya.

Pada waktu lainnya, Pangeran Abhaya mengajak Jīvaka menghadap ayahnya, Raja Bimbisāra, yang tengah menderita wasir. Jīvaka mampu menyembuhkan sakit itu dengan memakaikan obatnya satu kali saja. Raja Bimbisāra menghadiahkannya semua perhiasan yang dikenakan para selirnya, lalu menunjuknya sebagai tabib bagi keluarga istana dan juga bagi persaudaraan para bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Terberkahi.

Sepanjang kariernya sebagai tabib, Jīvaka juga berhasil mengobati seorang hartawan (seṭṭhi) di Rājagaha; sang hartawan telah bertahun-tahun didera sakit kepala yang parah. Jīvaka menyembuhkannya dengan melakukan bedah tengkorak. Pada saat lainnya, ia berhasil melakukan bedah perut terhadap putra seorang bendaharawan di Bārāṇasī yang menderita sakit usus kronis
karena ususnya terletak di tempat yang tidak tepat (antagaṇṭha).


Pernah ia diutus oleh Raja Bimbisāra untuk menyembuhkan Raja Caṇḍapajjota di Ujjenī, yang terserang sakit kuning (paṇḍupalāsa). Raja Caṇḍapajjota tidak menyukai mentega bening yang rupa-rupanya merupakan obat satu-satunya. Walaupun Jīvaka mengetahui hal ini, ia tetap saja menyiapkan obat yang mengandung mentega bening dan tanaman obat.

Obat itu dibuatnya supaya memiliki bau dan rasa laksana getah penciut. Lalu, obat itu diberikannya kepada raja. Setelah makan obat itu, raja mengetahui kandungan obat itu yang sesungguhnya. Ia sangat murka, namun setelah menyadari bahwa obat itu berkhasiat dan mampu menyembuhkan penyakitnya, ia menghadiahkan Jīvaka sepasang kain Siveyyaka sebagai pertanda rasa syukurnya. 

Selanjutnya, Jīvaka mempersembahkan kain itu kepada Yang Terberkahi. Lalu, tatkala Yang Terberkahi memberinya dorongan dengan pembabaran Dhamma, Jīvaka tercerahkan ke dalam Jalan Kesucian dan Buah Kesucian Sotāpatti.

Pada suatu kesempatan, Jīvaka menyadari bahwa Wihara Veḷuvana terlalu jauh. Karena itu, ia membangun sebuah wihara di hutan mangga miliknya di Rājagaha. Hutan tersebut, yang kemudian dikenal sebagai hutan mangga Jīvaka (Jīvakambavana), dipersembahkan kepada Yang Terberkahi dan para siswa-Nya. 

Ketika Raja Bimbisāra wafat, Jīvaka tetap mengabdi pada penggantinya, Raja Ajātasattu. Ia juga berjasa dalam membujuk Raja Ajātasattu untuk mengunjungi Buddha setelah Raja Ajātasattu melakukan kejahatan keji, yaitu membunuh ayah kandungnya sendiri.


Jīvaka sungguh akrab dengan Yang Terberkahi. Setiap harinya, ia melayani Yang Terberkahi sebanyak tiga kali. Suatu ketika, tatkala Yang Terberkahi terserang sembelit, ia menyembuhkan-Nya dengan memberikan obat pencahar ringan. Dalam kesempatan lainnya, ketika kaki Yang Terberkahi terluka oleh serpihan batu cadas yang dilontarkan oleh Bhikkhu Devadatta di Puncak Burung Nasar (Gijjhakūṭa Pabbata), Yang Terberkahi diusung oleh para bhikkhu ke Maddakucchi. Lalu, dari sana ia dibawa ke hutan mangga milik Jīvaka. Jīvaka merawat Yang Terberkahi; ia mengoleskan zat penciut pada luka tersebut. Ia memberitahukan Yang Terberkahi untuk tidak membuka balutan luka itu sampai ia kembali setelah mengunjungi seorang pasien di dalam kota. Ketika Jīvaka mencoba kembali ke hutan mangga itu, ia terlambat mencapai gerbang kota sebelum ditutup.

Jīvaka menjadi khawatir dan berpikir: “Aku telah mengoleskan obat keras pada kaki Yang Terberkahi serta membalut luka itu, dan memperlakukan-Nya seperti pasien biasa. Aku telah membuat kesalahan fatal! Sekarang sudah waktunya untuk membuka balutan itu. Jika balutan itu tetap tak dibuka sepanjang malam, Yang Terberkahi akan menderita sakit yang hebat.”

Namun, Yang Terberkahi membaca pikiran Jīvaka dan memanggil Bhikkhu Ānanda, lalu berkata: “Ānanda, Jīvaka tidak dapat kembali pada waktunya; ia tak sempat mencapai gerbang kota sebelum gerbang itu ditutup. Sekarang ia merasa khawatir karena sudah waktunya untuk membuka balutan ini. Ānanda,

bukalah balutan ini untuk Saya!”
Ketika Bhikkhu Ānanda membukakan balutan itu, luka di kaki Yang Terberkahi sudah lenyap bagaikan kerak yang terlepas dari batang pohon.

Begitu gerbang kota dibuka kembali, Jīvaka bergegas pulang ke hutan mangga itu walaupun hari masih gelap. Ia menghadap Yang Terberkahi dan bertanya apakah Ia menderita rasa sakit yang berat sepanjang malam. Yang Terberkahi menjawab: “Jīvaka, Saya telah mengatasi segala rasa sakit sejak mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon bodhi.”

Jīvaka dinyatakan oleh Yang Terberkahi sebagai yang terpiawai di antara siswa awam-Nya dalam hal pengabdian pribadi (aggaṁ puggalappasannānaṁ).

Sumber : Sammāditthi

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate