30 November 2015

Mengapa Belajar Abhidhamma Itu Sangat Penting?

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Mengapa Belajar Abhidhamma Itu Sangat Penting?

Buddha.id - Namo Buddhaya, Sudah lama sekali saya tidak membuat artikel tanya jawab padahal banyak yang suka. Artkel tanya jawab memang sangat bermanfaat untuk kita menambah wawasan tentang Buddhis dan kali ini kita akan memulai dengan topik Mengapa Belajar Abhidhamma Itu Sangat Penting?

Oleh U Sikkhananda Andi Kusnadi pada 10 Januari 2012 pukul 21:35

Abhidhamma artinya adalah Dhamma yang tertinggi, inilah intisari tertinggi dari Ajaran Sang Buddha, jauh lebih dalam dan detil daripada Sutta. Abhidhamma adalah salah satu dari tiga kumpulan Dhamma (dua lainnya adalah Vinaya & Sutta) Ajaran Sang Buddha. Banyak orang yang meragukan bahwa Abhidhamma adalah Ajaran Sang Buddha. Perlu diketahui, dari begitu banyak ajaran di dunia, tak ada satupun yang dapat menyamai Ajaran Sang Buddha yang berada dalam kelompok Sutta.

Bila Abhidhamma adalah ciptaan orang lain, maka orang yang menemukan/ mengajarkannya pasti lebih pandai dan bijaksana dari Sang Buddha. Hal itu adalah mustahil, karena Sammāsambuddha adalah level kebijaksanan/pencapaian tertinggi yang seorang makhluk dapat capai. Sehingga bila seseorang meragukan Abhidhamma sebagai Ajaran Sang Buddha, maka dia juga seharusnya meragukan Vinaya dan Sutta.

Mengapa belajar Abhidhamma itu sangat penting?

Banyak orang beranggapan bahwa mempelajari Abhidhamma tidaklah penting, mereka menganggap bahwa dengan mempelajari Sutta sudahlah cukup. Anggapan ini mungkin dapat dibenarkan saat zaman Sang Buddha atau saat masih banyak orang suci yang dapat menjelaskan isi dari Sutta dengan baik. Saat ini, sangatlah sulit untuk mengerti isi Sutta dengan baik, apalagi ditambah dengan kendala bahasa Pāḷi yang sangat sulit dicari padanan katanya dalam bahasa apapun.

Contoh kasus: syair dhammapada No. 183 yang sangat terkenal (yang termasuk dalam kategori Sutta) yaitu, “Hindari kejahatan (perbuatan buruk), perbanyaklah kebajikan (perbuatan baik), dan sucikan hati dan pikiran.” Biar lebih mudah, ambil bagian pertama saja, “Hindari kejahatan (perbuatan buruk).” Apakah hanya dengan mempelajari Sutta seseorang dapat mengerti arti sesungguhnya dari wejangan Sang Buddha ini? Sekarang bila ditanya, apakah pada saat makan, bercermin, nonton film, bertamasya, dll., seseorang terbebas dari perbuatan buruk? Bila hanya mengandalkan pengetahuan dari Sutta, kemungkinan besar sulit untuk menjawabnya.

Tetapi lewat pengetahuan Abhidhamma, hal itu akan sangat mudah. Selama kegiatan tersebut terbebas dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan mental (moha), maka dia terbebas dari perbuatan buruk. Maka, bila saat makan dia tidak terserang keserakahan karena makanan yang lezat, dia terbebas dari perbuatan buruk. Tetapi saat dia merasa senang dan muncul pendambaan atau nafsu (keserakahan - lobha) terhadap makanan yang lezat tersebut, maka kegiatan makan pun menjadi perbuatan buruk.

Mari tinjau “Perumpamaan makanan berformalin.” Misalnya di dalam Sutta dikatakan, hindari makanan berformalin karena mereka tidak baik bagi kesehatan. Seseorang yang mendapatkan informasi tersebut dari Sutta dan mempercayainya tentu akan mengikuti anjuran tersebut dan tidak akan mengkonsumsi makanan berformalin.

Tetapi bila dia tidak tahu, mungkin dia tidak akan khawatir akibat dari mengkonsumsi makanan tersebut. Jadi informasi dalam Sutta tersebut sangatlah baik dan membantu. Tetapi bila tidak dijelaskan ciri-ciri dari makanan yang berformalin, bagaimana seseorang dapat mengetahui makanan yang mengadung formalin? Contohnya adalah tahu berformalin, untuk dapat menghindari mengkonsumsi tahu tersebut, maka seseorang harus mengetahui ciri-ciri dari tahu yang mengandung formalin. Namun demikian, formalin bukan hanya ditemukan pada tahu, tetapi juga pada bahan makanan lainnya seperti ikan, daging, dll.

Oleh karena itu, mengetahui sifat dan bahaya dari formalin juga sangatlah penting. Hal itu bagaikan mengetahui sifat-sifat dari faktor mental yang tidak baik (akusala cetasika). Sedangkan, mengetahui ciri-ciri makanan yang berformalin, bagaikan mengetahui sifat-sifat dari kesadaran yang tidak baik (akusala citta). Penjelasan tersebut pasti tidak akan dapat ditemukan di dalam Sutta.

Selain itu, agar dapat hidup lebih baik lagi, maka tidaklah cukup hanya dapat menghindari hal yang buruk, tetapi juga harus bisa mengembangkan hal yang baik. Oleh karena itu, mengetahui sifat-sifat dari faktor mental yang lainnya (yang baik dan netral) dan kesadaran yang lainnya (yang cantik dan adiduniawi) adalah sangat penting.

Semua itu hanya dapat dipelajari di Abhidhamma. Dengan tambahan pengetahuan dari Abhidhamma, seseorang dapat dipastikan akan mampu memahami Vinaya dan Sutta dengan lebih baik. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah seseorang yang mempunyai kesempatan untuk mempelajari Abhidhamma, menggunakan waktunya untuk mempelajarinya.

Dalam abhidhamma, kebenaran atau kenyataan atau realita terbagi dua: konvensi (sammuti-sacca) dan sejati atau mutlak atau sesungguhnya (paramattha-sacca). Kebenaran konvensi adalah kebenaran yang berdasarkan kesepakatan atau kebenaran yang secara umum diterima oleh masyarakat luas.

Kebenaran konvensi ini dapat berupa konsep pemikiran (paññatti) ataupun ekspresi (vohāra), misalnya pria, wanita, gajah, harimau, kue, pakaian, nama, angka, dia, kami, dll. Coba lihat angka atau bilangan, ini adalah hanya sebuah konsep yang digunakan manusia untuk mempermudah dalam melakukan perhitungan, angka bukanlah kebenaran mutlak. Mari simak pembahasan tentang angka yang terjadi antara bhante Nāgasena dan raja Milinda (kitab Milinda Pañha - pertanyaan raja Milinda).

- Nāgasena, sudah berapa vassa (masa kebhikkhuan) anda menjadi bhikkhu?
- Tujuh, Tuanku.
- Tetapi, bagaimana kamu katakan kamu sudah Tujuh vassa? Apakah kamu ataukah jumlah vassamu yang Tujuh.
- Pada saat itu tampak bayangan raja di lantai dan juga di air yang berada di panci air, kemudian bhante Nāgasena bertanya kepada raja, “Bayanganmu, Oh raja, sekarang tampak di lantai dan di air. Bagaimana sekarang, apakah kamu yang raja atau bayangan tersebut?”
- Akulah yang raja, Nāgasena; bayangan tersebut muncul karena aku.
- Begitu juga, Oh raja, jumlah vassaku yang Tujuh, bukan aku. Tetapi, karena ada aku, Oh raja, angka Tujuh tersebut muncul; Tujuh vassa itu adalah milikku seperti juga bayangan itu adalah milikmu.
- Sangat luar biasa dan menakjubkan, Nāgasena. Pertanyaan yang diajukan kepadamu, walaupun sulit, telah dipecahkan dengan baik!

Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa angka Tujuh tersebut hanyalah suatu konsep yang muncul karena dan digunakan untuk mewakili - suatu keadaan. Namun sebenarnya, angaka Tujuh itu sendiri tidak ada.

Berbeda dengan konsep, kebenaran mutlak atau sejati adalah kebenaran yang muncul karena sifat asli atau sesungguhnya dari suatu hal atau benda. Ini merupakan kebenaran mutlak karena kebenaran ini tidak berubah dari sifat alaminya walau terkena kondisi apapun atau berada di manapun.

Misalnya, keserakahan (lobha), baik itu muncul di pria, wanita, dewa, brahma, anjing, kuda, atau makhluk apapun itu, sifat dari keserakahan tidak berubah (tetap) yaitu selalu mendambakan atau merindukan sesuatu. Ada 2 jenis sifat alami hakiki/intrinsik (sabhāva): sifat umum - berlaku untuk semua jenis fenomena (sāmañña lakkhaṇa) dan sifat spesifik - hanya menjadi milik suatu entitas tertentu (sabhāva lakkhaṇa). Sifat umum dari semua fenomena adalah tidak kekal (anicca), penderitaan atau tidak memuaskan (dukkha), dan tanpa-inti/tanpa-aku/tanpa-jiwa (annatā). Sedangkan sifat spesifik adalah sifat yang hanya dimiliki oleh individu/ entitas tertentu, tidak dimiliki oleh individu/entitas yang lainnya. Contohnya, panas dan dingin hanya dimiliki oleh unsur api (tejo dhātu); keras dan lembut hanya dimiliki oleh unsur tanah (pathavī dhātu); dan sebagainya.

Ada 4 kebenaran mutlak: 1. Kesadaran atau kadang sering disebut sebagai pikiran (citta), terdiri dari 89 atau 121 macam; 2. Faktor-faktor mental (cetasika), terdiri dari 52 macam; 3. Materi (rūpa), terdiri dari 28 macam; dan 4. Nibbāna. Nibbāna adalah sesuatu yang ada dan multak, tidak terkondisi (asaṅkhata); sedangkan tiga realita yang pertama masih terkondisi (saṅkhata). Tiga kebenaran mutlak yang pertama kadang kala juga dikenal sebagai nāma-rūpa atau pañcakkhandha. Nāma adalah fenomena mental yang merupakan gabungan antara kesadaran (citta) dan faktor-faktor mental (cetasika). Sedangkan, rūpa adalah fenomena jasmani atau materi. Bila ditinjau sebagai lima kelompok kehidupan (pañcakkhandha), maka fenomena ini dapat diurai sebagai berikut:

Kelompok jasmani atau materi (rūpakkhandha), terdiri dari 28 macam materi (rūpa).
Kelompok perasaan (vedanākkhandha), ini adalah vedanā cetasika.
Kelompok pencerapan/persepsi (saññākkhandha), ini adalah saññā cetasika.
Kelompok bentuk-bentuk mental (saṅkhārakkhandha), terdiri dari 50 cetasika (tidak termasuk vedanā cetasika dan saññā cetasika).
Kelompok kesadaran (viññāṇakkhandha), terdiri dari 89 atau 121 macam kesadaran (citta).
Kelompok pertama termasuk dalam fenomena materi/jasmani (rūpa) dan kelompok sisanya termasuk dalam fenomena mental (nāma).

Dalam syair pertama dhammapada, Sang Buddha mengatakan,
”Semua fenomena mental mempunyai pikiran sebagai pelopornya, mempunyai pikiran sebagai pemimpinnya; mereka adalah kreasi pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan berlandaskan pikiran buruk, maka penderitaan (dukkha) akan mengikutinya bagaikan roda pedati yang mengikuti jejak kaki sapi yang menariknya.”

Dalam syair kedua dhammapada, Sang Buddha mengatakan,
“Semua fenomena mental mempunyai pikiran sebagai pelopornya, mempunyai pikiran sebagai pemimpinnya; mereka adalah kreasi pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan berlandaskan pikiran baik, maka kebahagiaan (sukha) akan mengikutinya bagaikan bayangan yang tidak pernah pergi.”

Berdasarkan dua syair tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa pikiran adalah hal yang paling penting. Jadi, adalah suatu kesempatan yang sangat luar biasa bila seseorang mempunyai kesempatan untuk mempelajari pikiran. Seseorang dapat mempelajari semua hal tentang pikiran dan yang berhubungan dengan pikiran dalam abhidhamma secara detil dan lengkap. Diantaranya adalah apa definisi dari pikiran baik dan pikiran jahat, faktor-faktor apa yang membuat pikiran menjadi pikiran baik dan jahat, apa yang menyebabkan penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Oleh karena itu, dengan mempelajari abhidhamma, seseorang dapat lebih mengenal dirinya dan kenyataan hidup yang sesungguhnya, yang hanyalah merupakan fenomena mental dan jasmani. Dengan demikian, mudah-mudahan kehidupan yang dipenuhi oleh penderitaan, ketidakpuasan, dan kesedihan ini dapat dijalani dengan baik; yaitu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat sehingga tidak membuat kondisi yang ada menjadi lebih buruk. Dan mudah-mudahan dengan pengertian yang baik tentang sifat alami dari fenomena mental dan jasmani ini, seseorang dapat lebih mudah dalam memahami dan mengembangkan jalan yang dapat membawanya ke kebebasan atau berakhirnya penderitaan (Nibbāna), yaitu Jalan Mulia Beruas Delapan (meditasi vipassanā).

Namun demikian, abhidhamma hanyalah sebatas teori. Sebaik dan sebagus apapun teori tersebut tidak akan memberikan dampak yang nyata bila tidak dipraktekkan. Bila seseorang sudah merasa puas dengan hanya mempelajari dan memahami abhidhamma, maka dia tidak akan mencapai Nibbāna. Jadi jangan lupa untuk menerapkan pengetahuan teori yang telah didapat dari mempelajari abhidhamma dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: bila terserang rasa marah, maka langsung sadari rasa marah tersebut, sehingga tidak berkembang dan mudah-mudahan cepat reda dan hilang.

Dengan demikian, bukan hanya mengurangi jumlah akibat buruk dari marah tersebut, tetapi malah menambah akibat baik dari menyadarinya. Hal ini dapat terjadi karena untuk menyadari rasa marah seseorang harus mengerahkan kesadaran yang baik (kusala citta) yang didukung oleh perhatian murni (sati) yang baik. Itu sebenarnya adalah praktek dari meditasi vipassanā dan hanya praktek inilah yang dapat membawa seseorang ke Nibbāna.

Sebagai seorang yang belum sempurna, sangatlah mungkin penulis melakukan kesalahan. Penulis bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini. Jika pembaca menemukannya, penulis akan sangat menghargai masukan anda. Penulis akan dengan senang hati untuk mempelajari masukan tersebut dan membenarkan kesalahannya.

Semoga semua pencari Dhamma terus maju dan berkembang dalam Dhamma. Semoga lebih banyak lagi makhluk yang masih banyak debu di matanya, menjadi semakin sedikit debunya; dan yang mempunyai sedikit debu di matanya, secepatnya merealisasi buah dari perjuangannya yaitu kedamaian sejati (Nibbāna).

Singkat kata,
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pencari Dhamma.
Semoga semua makhluk dapat berbagi dan menikmati jasa kebajikan hasil dari
penulisan Dhamma ini.

Bhikkhu Sikkhānanda
Chanmyay Yeiktha Meditation Center
Hmawbi, Myanmar
10 Oktober, 2011 (220811-101011)

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate