16 November 2015

Kegiatan Buddha Sehari-Hari

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kegiatan Buddha Sehari-Hari

Buddha.id - Namo Buddhaya, apa kabar teman-teman ? semoga semua dalam keadan baik dan sehat selalu. Pada kesempatan yang baik ini saya ingin berbagi informasi tentang kegiatan sang Buddha sehari-hari yang saya dapatkan dari Facebooknya Sammaditthi sbb:

“Sepanjang hari, Ia sibuk melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi makhluk lain, dan Ia hanya tidur satu jam setiap hari.”

---------------------------------------------
Sebagai Yang Tercerahkan Sempurna, Buddha bisa hidup dengan menikmati kebahagiaan Nibbāna seorang diri. Walaupun demikian, Ia tidak hidup seperti itu. Sebaliknya, hidup-Nya dipenuhi dengan kegiatan religius sepanjang hari, kecuali saat Ia tengah memenuhi kebutuhan jasmani-Nya. Munculnya Buddha adalah demi kesejahteraan semua makhluk (Buddho loke samuppanno hitāya sabbapāṇinaṁ). Ia memberikan layanan-Nya tanpa pamrih demi kemajuan moral dunia.

Ia berusaha sebaik mungkin untuk mencerahkan makhluk lain serta membebaskan mereka dari derita hidup. Welas asih agung Yang Terberkahi dapat diketahui dan dilihat jelas melalui keseharian-Nya. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Yang Terberkahi adalah guru spiritual yang paling bersemangat dan aktif yang pernah hidup di dunia ini.

Kegiatan harian yang dilakukan Yang Terberkahi bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu:
(1) kegiatan pagi hari (purebhatta kicca),
(2) kegiatan siang hari (pacchābhatta kicca),
(3) kegiatan malam waktu jaga pertama (purimayāma kicca),
(4) kegiatan malam waktu jaga pertengahan (majjhimayāma kicca), dan
(5) kegiatan malam waktu jaga terakhir (pacchimayāma kicca).

--------------------------------------------
Kegiatan Pagi Hari (sekitar pukul 06.00–12.00)

Yang Terberkahi senantiasa bangun pagi-pagi. Setelah menikmati kebahagiaan Nibbāna, Ia akan memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Demikianlah, Ia melewati malam waktu jaga terakhir dengan tenang sampai waktunya tiba untuk menerima dana makanan. Setelah tiba saatnya, Ia akan menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke desa terdekat untuk menerima dana makanan, kadang-kadang sendirian, kadang-kadang diiringi para siswa-Nya.

Jika Yang Terberkahi tidak diundang makan oleh para umat di rumah mereka, Ia biasanya akan berjalan perlahan-lahan menyusuri jalanan dengan mangkuk di tangan-Nya; mata-Nya memandang ke bawah; Ia senantiasa penuh perhatian murni saat merentang atau menekuk lengan-Nya; demikian pula saat Ia membuka penutup mangkuk dana-Nya dan menerima dana; Ia selalu penuh perhatian murni dalam segala kegiatan-Nya.

Ia akan berdiri diam di depan pintu setiap rumah, tanpa mengucapkan sepatah kata atau suara apa pun. Ia akan menerima makanan apa pun yang dipersembahkan dan yang ditaruh di dalam mangkuk dana-Nya. Setelah menerima cukup makanan, Ia akan kembali ke wihara untuk makan.

Terkadang, Yang Terberkahi melakukan perjalanan dengan mengerahkan kekuatan adibiasa-Nya, seperti saat mengalahkan sang petapa berambut pilin Uruvela Kassapa, saat menundukkan Yaksa Āḷavaka yang pemberang, saat mengalihyakinkan sang pembantai keji Aṅgulimāla, ataupun saat menjinakkan Nandopananda sang raja naga.

Pada kesempatan lainnya, dalam perjalanan menerima dana makanan, Ia akan menuntun beberapa orang ke jalan yang benar dengan menggunakan kebijaksanaan-Nya, seperti apa yang dialami sang brahmin Kasi Bhāradvāja dan pemuda Siṅgālaka—dan pada kala lainnya Ia bahkan merawat orang lain—seperti apa yang terjadi dengan Bhikkhu Pūtigatta Tissa.

Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah hari, Yang Terberkahi akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan, sebagian lagi dalam Lima Sila, dan sebagian lainnya dalam Jalan Pembebasan. Terkadang Ia memberikan penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamuhan.

Setelah memberikan kebaikan bagi banyak orang dengan cara demikian, Ia akan bangkit dari duduk-Nya dan kembali ke wihara. Setelah kembali, Ia akan duduk di paviliun, di tempat duduk khusus yang telah disediakan untuk-Nya; Ia akan menunggu para siswa-Nya, yang kembali seusai makan. Setelah semua bhikkhu tiba, Yang Terberkahi lalu menuju Bilik Harum-Nya.

-----------------------------------------------
Kegiatan Siang Hari (sekitar pukul 12.00–18.00)

Seusai kegiatan pagi, Yang Terberkahi akan duduk di dekat Bilik Harum dan mencuci kaki-Nya. Lalu, dengan berdiri di atas tatakan kaki, Ia akan memberikan petunjuk kepada para bhikkhu:
“Para Bhikkhu, berusahalah dengan tekun untuk mencapai Pembebasan.

Sungguh jarang munculnya seorang Buddha di dunia ini, sungguh jarang kelahiran sebagai manusia, sungguh jarang tercapainya kondisi pendukung yang optimal, sungguh jarang ditinggalkannya keduniawian untuk menjalani hidup suci, sungguh jarang adanya kesempatan mendengarkan Dhamma.”

Sebagian bhikkhu lalu akan mengajukan pertanyaan mengenai masalah yang menghalangi kemajuan latihan mereka. Yang Terberkahi akan menjawab pertanyaan mereka dan juga akan memberikan objek meditasi yang sesuai dengan perangai mereka masing-masing. Setelah itu semua bhikkhu akan memberikan sembah hormat pada Sang Guru dan kembali ke tempat tinggalnya masing-masing pada siang hari itu.

Setelah ini, Yang Terberkahi akan kembali ke bilik-Nya untuk beristirahat. Jika dikehendaki-Nya, Ia akan berbaring sejenak di sisi kanan-Nya dengan sikap badan seperti singa, penuh perhatian murni dan pemahaman jernih; jika tidak, Ia akan memasuki kebahagiaan Welas Asih Nirbatas.

Dengan memasuki kebahagiaan ini, Ia akan memindai seisi dunia dengan Mata Buddha-Nya; Ia khususnya akan memberikan nasihat spiritual kepada para siswa Saṁgha sebagaimana diperlukan.

Lalu, menjelang senja, para penduduk kota dan desa tempat Yang Terberkahi dan para siswa-Nya menerima dana akan datang ke aula pembabaran; mereka akan membawakan bunga serta persembahan lainnya kepada-Nya dan menunggu untuk mendengarkan khotbah-Nya.

Saat Yang Terberkahi membabarkan Dhamma, masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, berpikir bahwa khotbah Yang Terberkahi ditujukan secara khusus kepada dirinya. Demikianlah cara Yang Terberkahi membabarkan Dhamma, yang sesuai terhadap waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Yang Terberkahi terasa menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia.

---------------------------------------------
Kegiatan Malam Waktu Jaga Pertama (sekitar pukul 18.00–22.00)

Setelah para umat awam pulang, Yang Terberkahi bangkit dari duduk-Nya dan menuju ke tempat para bhikkhu pengiring menyediakan air bagi-Nya untuk mandi. Setelah mandi, Yang Terberkahi mengenakan jubah-Nya dengan baik dan berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya.

Sementara itu, para bhikkhu akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada Yang Terberkahi. Kali ini, para bhikkhu bebas untuk mendekati Yang Terberkahi untuk menghilangkan keraguan mereka, untuk meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya.

-------------------------------------------
Kegiatan Malam Waktu Jaga Pertengahan (sekitar pukul 22.00–02.00)

Kala malam waktu jaga pertengahan tiba, semua bhikkhu telah pergi setelah memberi sembah hormat pada Yang Terberkahi. Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti para dewa dan brahmā dari sepuluh ribu tata dunia. Sebagian khotbah, seperti Maṅgala Sutta (Khotbah Mengenai Berkah Utama) dan Parābhava Sutta (Khotbah Mengenai Kejatuhan Makhluk), dibabarkan kepada mereka selama malam waktu jaga pertengahan.

Mereka mendekati Yang Terberkahi untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka pikirkan. Yang Terberkahi melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka.

-------------------------------------------
Kegiatan Malam Waktu Jaga Terakhir (sekitar pukul 02.00–06.00)

Waktu jaga terakhir malam hari dipergunakan sepenuhnya untuk Yang Terberkahi sendiri. Waktu jaga ini dibagi menjadi empat bagian.
Bagian pertama adalah dari pukul 02.00 sampai 03.00.
Rentang waktu ini dipakai-Nya untuk berjalan-jalan (caṅkamana) untuk mengurangi penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Kegiatan ini berfungsi sebagai olahraga ringan bagi-Nya.
Bagian kedua adalah dari pukul 03.00 sampai 04.00.
Dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di dalam Bilik Harum-Nya.
Pada bagian waktu ketiga, yaitu dari pukul 04.00 sampai 05.00,
Ia bangkit dari tidur, duduk bersila, dan terserap ke dalam Arahatta-Phala Samāpatti, menikmati kebahagiaan Nibbāna.

Bagian terakhir adalah satu jam penuh dari pukul 05.00 sampai 06.00.
Yang Terberkahi memasuki kebahagiaan Welas Asih Nirbatas dan memancarkan pikiran cinta kasih terhadap semua makhluk serta melunakkan hati mereka.

Pada waktu fajar itu, Ia memindai seisi dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk mencari para individu yang bisa dibantu-Nya. Mereka yang membutuhkan bantuan-Nya akan tampak jelas di hadapan-Nya, walaupun mereka mungkin tinggal di tempat yang jauh. Terdorong welas asih terhadap mereka, Ia akan pergi dan memberikan bantuan spiritual sebagaimana yang diperlukan.

Demikianlah, sejak Pangeran Siddhattha menjadi Buddha pada usia tiga puluh lima tahun, Ia senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan religius tanpa kenal lelah demi kebaikan dan kebahagiaan semua makhluk. Sepanjang hari, Ia sibuk melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi makhluk lain, dan Ia hanya tidur satu jam setiap hari. Demikianlah Ia melewati empat puluh lima tahun masa pembabaran Dhamma-Nya, sampai saat wafat-Nya pada usia delapan puluh tahun.

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate