20 Oktober 2015

Sunita Si Pemulung

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Sunita Si Pemulung

Buddha.id - Namo Buddhaya, kisah Buddhis yang satu ini tentu tidak kalah bagus dari yang sudah-sudah saya posting disini. Kisah Sunita Si Pemulung ini saya dapatkan dari Facebooknya Sammāditthi dan akan saya share kembali disini, dengan tujuan semoga dapat membawa manfaat bagi para pembaca semua. berikut ini kisahnya :
Hamba senantiasa menerima suruhan, namun tak pernah menerima kebaikan seperti ini. Jika Bhante bersedia menerima pemulung yang kotor dan sungguh sengsara seperti diri hamba, kenapa hamba tidak bersedia meninggalkan pekerjaan yang berat dan kotor ini?
Di Kota Rājagaha, hiduplah seorang pria bernama Sunīta yang berasal dari keluarga pemulung bunga (pupphachaḍḍakakula). Dalam kehidupannya kali ini, ia mengalami kesengsaraan karena dalam salah satu kehidupan lampaunya ia pernah menghina seorang Buddha Diam (Pacceka Buddha). Dengan status sosialnya sebagai kaum buangan, tak mungkin baginya untuk memperoleh pekerjaan dan upah yang baik.

Untuk mempertahankan hidup, ia bekerja sebagai penyapu jalan dan memperoleh upah yang sangat sedikit. Walaupun sudah menghemat pengeluaran, tetap saja ia tak mampu membeli kebutuhan pokok seperti pakaian, obat-obatan, dan gubuk kayu yang sederhana. Ia hanya mampu makan bubur setiap harinya.

Terkadang, ia memperoleh makanan yang lumayan baik berupa serpihan nasi dan kuah miju-miju makanan seperti ini diberikan oleh keluarga yang murah hati padanya untuk jasa membersihkan rumah. Ia hanya memakai secarik kain untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Pada malam hari, ia tidur di pinggir jalan karena tak punya rumah.

Sunīta juga dilarang bergaul secara bebas ataupun berjalan bersama-sama orang lain. Apabila ada orang berkasta tinggi yang hendak lewat, ia harus pergi dan menjauhi orang itu agar bayangannya jangan sampai mengenai orang tersebut.

Jika tidak, ia akan dicaci dan dihukum berat. Yang lebih menyedihkan lagi, ia tak berkesempatan mempelajari apa pun, serta dilarang keras memasuki tempat keagamaan dan mengikuti kegiatan keagamaan apa pun.

Suatu hari, pada malam waktu jaga terakhir, Yang Terberkahi tengah duduk menikmati kebahagiaan Welas Asih Nirbatas (Mahākaruṇā Samāpatti). Ia memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat apakah Ia bisa memberi bantuan bagi makhluk lain.

Tampak oleh-Nya Sunīta telah matang untuk mencapai Pembebasan. Ketika tiba waktunya untuk menerima dana makanan, Yang Terberkahi mengenakan jubah-Nya. Sambil membawa mangkuk dana dan jubah luar-Nya, Ia pergi ke Rājagaha bersama para siswa-Nya.

Saat itu, Sunīta tengah membersihkan sampah, daun kering, dan kotoran yang ada di jalan, serta mengumpulkan semua sampah itu di keranjangnya. Tubuhnya berkeringat dan penuh debu. Lalu, dari kejauhan, tampak olehnya Yang Terberkahi dan para siswa-Nya tengah datang melalui jalan itu.

Ia bergegas menaruh sampah itu ke dalam keranjang, mengusungnya di atas kepala untuk dibawa pergi. Akan tetapi, Yang Terberkahi dan para siswa-Nya terus saja semakin mendekatinya. Hatinya penuh takut dan takjub.

Karena tak ada tempat baginya untuk menyingkir, ia lalu meletakkan keranjang dan sapunya di tanah, lalu berdiri merapat ke tembok dengan tegang, dengan tangan yang ditangkupkan di depan dadanya sebagai penghormatan kepada
Yang Terberkahi.

Kemudian Yang Terberkahi mendekatinya serta bertanya dengan penuh simpati: “Sunīta, maukah Engkau meninggalkan mata pencaharian yang berat ini dan menjadi bhikkhu?”

Mendengar pertanyaan ini, tubuh Sunīta bergetar gembira, hatinya dipenuhi sukacita dan kebahagiaan, matanya berkaca-kaca. Begitu terharu dirinya sehingga untuk sejenak ia tak mampu berkata apa pun karena tak seorang pun pernah berkata kepadanya seperti ini.

Ia mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sepanjang hidupnya, ia hanya menerima suruhan, sumpah serapah, dan makian dari orang lain. Namun kali ini ia disapa oleh Yang Terberkahi dengan suara dan kasih lembut yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Sunīta menjawab: “Bhante, hamba senantiasa menerima suruhan, namun tak pernah menerima kebaikan seperti ini. Jika Bhante bersedia menerima pemulung yang kotor dan sungguh sengsara seperti diri hamba, kenapa hamba tidak bersedia meninggalkan pekerjaan yang berat dan kotor ini? Bhante, mohon tahbiskanlah hamba menjadi bhikkhu!”

Demikianlah, seraya berdiri, Sunīta ditahbiskan oleh Yang Terberkahi dengan kata-kata “Mari, Bhikkhu!”

Kemudian Yang Terberkahi mengajak Bhikkhu Sunīta ke Vihara bersama para bhikkhu lainnya. Yang Terberkahi mengajarkan Bhikkhu Sunīta suatu objek meditasi yang dipakainya untuk berlatih dengan tekun. Tak lama kemudian, ia mencapai tataran Arahatta. Banyak manusia dan dewa datang untuk memberikan sembah hormat padanya, dan Bhikkhu Sunīta membabarkan kepada mereka cara ia mencapai Pencerahan.

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate