12 Oktober 2015

Rahula Samanera Pertama

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Rahula Samaṇera Pertama

Buddha.id - Namo Buddhaya, Rahula Samanera Pertama merupakan lanjutan dari kisah Buddhis yang sebelumnya pernah saya ulas disini. Seperti biasa artikel Buddhis ini saya dapatkan dari Facebooknya Sammāditthi. Jika kawan-kawan mengikuti postingan saya tentu ini merupakan rangkaian kelanjutan dari kisah sebelumnya.
Baca Juga : Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman
Agar teman-teman memahami jalur ceritanya ada baiknya baca terlebih dahulu postingan diatas lalu lanjut membaca Kerinduan Putri Yasodhara dan berikut ini Kisah Rahula Samanera Pertama :
Pangeran Rāhula ingin mewarisi kekayaan ayahnya, namun kekayaan dan harta duniawi ini hanya akan menyebabkan penderitaan tanpa akhir baginya dalam putaran tumimbal lahir. Lebih baik Aku berikan kepadanya ketujuh jenis harta mulia.
Pangeran Rāhula belia baru berusia tujuh tahun ketika Yang Terberkahi mengunjungi Kapilavatthu. Ia diasuh oleh ibunya Yasodharā dan kakeknya Raja Suddhodana. Dalam kurun waktu itu, ia tak pernah menjumpai ayahnya, Pangeran Siddhattha, yang meninggalkan keduniawian pada hari ia lahir.

Pada hari ketujuh di Kapilavatthu, Yang Terberkahi dan para siswa-Nya kembali makan di istana raja. Saat itu, Putri Yasodharā memakaikan pakaian yang anggun pada pangeran muda itu, yang lalu disuruhnya untuk menjumpai Yang Terberkahi.

Ia berkata: “Putraku tercinta, lihatlah bhikkhu yang anggun, yang memiliki penampilan laksana brahmā, serta yang diiringi oleh dua puluh ribu orang bhikkhu itu! Ia adalah ayahmu. Kekayaan-Nya sangat banyak, namun semuanya telah lenyap seiring dengan pelepasan keduniawian-Nya. Pergilah pada ayahmu dan mintalah warisanmu dengan berkata: ‘Ayahanda, saya adalah pangeran muda yang kelak akan dinobatkan sebagai raja. Saya membutuhkan kekayaan dan harta yang sesuai bagi raja seperti itu. Saya harap kekayaan tersebut diberikan kepada saya sebagai warisan karena seorang putra senantiasa menjadi pewaris dari kekayaan ayahnya seperti itu.’”

Dengan segera Pangeran Rāhula mendekati Yang Terberkahi dan merasakan kasih sayang dari ayahnya. Hatinya meluap dengan kebahagiaan. Ia berkata sesuai dengan yang diminta ibunya. Ia lalu menambahkan kata-katanya sendiri: “O Ayahanda Bhikkhu, bayang-bayang Ayahanda pun terasa menyenangkan bagi saya!”

Seusai makan, Yang Terberkahi membabarkan manfaat dari pemberian dana makanan, lalu meninggalkan istana untuk menuju ke Wihara Nigrodha bersama dengan dua puluh ribu siswa Arahanta-Nya. Pangeran Rāhula mengikuti-Nya dari belakang, sambil berkata: “Berikanlah warisan saya, O Bhikkhu! Berikanlah warisan saya, O Bhikkhu!”

Ia mengulangi kata-kata tersebut sepanjang jalan sampai mereka tiba di wihara. Walau demikian, tak seorang pun, termasuk Yang Terberkahi, mencegahnya.

Setibanya Yang Terberkahi di wihara tersebut, Ia berpikir:

Pangeran Rāhula ingin mewarisi kekayaan ayahnya, namun kekayaan dan harta duniawi ini hanya akan menyebabkan penderitaan tanpa akhir baginya dalam putaran tumimbal lahir. Lebih baik Aku berikan kepadanya ketujuh jenis harta mulia, yakni:

keyakinan (saddhā),
moralitas (sīla),
rasa malu berbuat salah (hiri),
rasa takut akan akibat berbuat salah (ottappa),
pengetahuan (suta),
kedermawanan (cāga), dan
kebijaksanaan (paññā),
yang semuanya telah Kutemukan saat berjuang mencapai Pencerahan. Akan
Kujadikan dirinya pemilik harta warisan yang luhur ini.” Lalu Yang Terberkahi meminta Bhikkhu Sāriputta untuk memberikan penahbisan awal bagi Pangeran Rāhula sebagai bakal bhikkhu (sāmanera). Demikianlah, Pangeran Rāhula menjadi sāmaṇera pertama dalam Buddha Sāsanā.

Mendengar bahwa cucunya, Pangeran Rāhula, telah diberikan penahbisan awal sebagai sāmaṇera, Raja Suddhodana menjadi sangat tertekan dan mengalami derita batin dan fisik yang hebat. Ia lalu menjumpai Yang Terberkahi. Setelah memberi hormat pada-Nya, ia duduk di tempat yang sesuai dan berkata:
“Bhante, bolehkah aku mengajukan satu permohonan kepada Yang Terberkahi?”

“O Ayahanda, Yang Sempurna telah meninggalkan pengabulan permohonan,” jawab Yang Terberkahi.

Raja berkata: “Aku hanya akan mengajukan satu permohonan yang pantas dan tak tercela.”

“Jika demikian, katakanlah, O Raja Agung!” jawab Yang Terberkahi.

Raja Suddhodana menjelaskan dan memohon seperti ini:
“Bhante, aku sungguh menderita tatkala pertama kali Engkau meninggalkan keduniawian. Kemudian putraku Nanda menerima penahbisan lanjut sebagai bhikkhu. Dan yang terakhir, cucuku Rāhula diberikan penahbisan awal sebagai sāmaṇera. Deritaku sekarang tak terukur lagi. Bhante, cinta kami pada anak menembus sampai ke kulit ari. Cinta ini menusuk ke kulit, daging, urat daging,
tulang, dan bahkan menembus sumsum. Bhante, akan baik kiranya jika Bhante tidak memberikan penahbisan awal pada anak-anak tanpa persetujuan orangtua mereka.”

Yang Terberkahi lalu membimbing, mendorong, membangkitkan semangat, dan membesarkan hati sang raja dengan pembabaran Dhamma. Setelah itu, Raja Suddhodana bangkit dari duduknya. Setelah memberi sembah hormat pada Yang Terberkahi, ia pergi seraya menjaga supaya Yang Terberkahi tetap berada di sisi kanannya.

Sehubungan dengan permohonan raja itu, Yang Terberkahi menerima alasan tersebut dan mencanangkan peraturan pada Persamuhan Bhikkhu: “Para Bhikkhu, janganlah memberikan penahbisan awal pada anak-anak tanpa persetujuan orangtua mereka!”

Yang Terberkahi senantiasa mengajarkan banyak sutta pada Rāhula untuk membimbingnya, sementara sāmaṇera itu sendiri sangat berkeinginan menerima bimbingan dari-Nya dan para gurunya. Ia selalu bangun pagi-pagi dan mengambil segenggam pasir sambil berkata: “Semoga hari ini aku menerima wejangan dari para guruku sebanyak butiran pasir ini.”

Ketika Rāhula berumur tujuh tahun, Yang Terberkahi membabarkan kepadanya Ambalaṭṭhika Rāhulovāda Sutta. Dalam khotbah tersebut Ia menganjurkannya untuk tidak berbohong, sekalipun dalam canda. Dan ketika Rāhula berumur delapan belas tahun, Yang Terberkahi membabarkan kepadanya Mahā Rāhulovāda Sutta. Dalam sutta tersebut, Ia memberikan pembabaran tentang
pengembangan batin dengan sangat mendalam.

Pada umur dua puluh tahun, Rāhula menerima penahbisan lanjut sebagai bhikkhu. Dan saat tengah mendengarkan Cūḷa Rāhulovāda Sutta yang dibabarkan oleh Yang Terberkahi di Andhavana, pada akhir pembabaran tersebut ia mencapai tataran Arahatta, bersamaan dengan satu miliar dewa yang turut mendengarkan.

Semoga artikel bermanfaat terima kasih Sammāditthi, Salam Metta ^_^

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate