24 Oktober 2015

Mengapa Manusia Tidak Dapat Melihat Keberadaan Dewa ?

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Mengapa Manusia Tidak Dapat Melihat Keberadaan Dewa ?

Buddha.idMengapa Manusia Tidak Dapat Melihat Keberadaan Dewa ? pernahkah pertanyaan ini muncul dibenak kita ? selama ini kita hanya bisa melihat gambar-gambar dewa di Klenteng-Klenteng dan yang membuat penasaran kenapa kita tidak dapat melihatnya ?

Teka-teki ini sebentar lagi akan terjawab. Artikel ini saya dapatkan dari Facebooknya Kebajikan ( De 德 ) dan saya coba share kembali disini tentunya dengan tujuan baik agar dapat menambah wawasan kita lebih luas lagi.

Selalu saja ada yang bertanya, “Benarkah dewa itu eksis? Jika ada, mengapa tidak bisa melihatnya?

Tentu dewa itu ada. Kalau memang dewa itu eksis, lalu mengapa kita tidak bisa melihat keberadaannya? Alasannya sederhana, karena orang-orang dalam kesesatan. Dalam perjalanan hidup seseorang, tidak peduli betapa tinggi jabatannya, harta bendanya, pasti tidak akan terhindar dari empat kata ini : lahir, tua, sakit dan mati. Namun, setelah seseorang menemui ajalnya, bukan hanya sekadar meninggal, lalu selesai begitu saja, tetapi akan reinkarnasi kembali.

Tidak peduli seberapa tinggi jabatan anda, berapa banyak harta yang anda miliki, semua itu tidak akan bisa dibawa pergi, ada pepatah yang mengatakan : “Hidup bagaikan mimpi”, inilah artinya.

Orang-orang selalu terbiasa memahami Dewa dengan pemikiran manusia, dalam benak mereka, bahwa dengan membakar dupa dan bersujud sembahyang kepada Dewa, lantas bisa kaya raya dan memiliki anak, atau bahkan terbebas dari sakit atau penyakit, namun, orang-orang tidak tahu bahwa dalam perjalanan hidup seseorang itu diatur berdasarkan berkah (amal baik) yang dihimpun dalam kehidupan sebelumnya, dan mustahil sesuatu itu lantas akan berubah hanya karena manusia bersujud kepada Dewa.

Akhirnya, setelah bersujud dan memanjatkan do’a kepada Dewa, sakit atau penyakit yang dideritanya tidak juga membaik, dan karena itu, lantas manusia tidak percaya lagi dengan Dewa, karena mereka mengganggap tidak ada gunanya, dan karena harapan dari do’a (permintaan) yang tidak terwujud itu lalu menganggap Dewa itu tidak ada.

Yang namanya manusia juga selalu takut akan kematian, lalu ada yang bergumam, “Alangkah bagusnya seandainya bisa menemukan obat awet muda dan hidup abadi.”

Ketika Anda menceritakan kepadanya bahwa melalui kultivasi, dapat mencapai tujuan itu, justru ada yang menertawakan, tidak percaya dan menganggapnya “takhayul.” Dalam sejarah kita, ada seorang kultivator, yakni Hui Neng (Patriark keenam dan terakhir, pendiri “Pencerahan Seketika” (Sudden Enlightenment, 638-713 ), jasadnya tetap abadi tidak membusuk, telah dipersembahkan selama lebih dari 1000 tahun di Nanhua Temple, Guangdong, Tiongkok, dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

Coba anda renungkan, seorang manusia biasa apakah bisa seperti itu? Jasad yang tidak membusuk, jadi bukankah perubahan dari substansi itu karena kultivasinya? Mengapa bisa meninggalkan jasad yang abadi seperti itu, karena untuk memberitahu kepada kita : Dewa itu benar-benar ada.

Dalam benak manusia, Dewa itu pasti berjalan di atas awan, dan hanya dengan melambaikan tangannya, maka semua orang-orang jahat pun mati seketika. Namun ketika sang Dewa turun ke bumi, maka Ia tidak boleh memperlihatkan kekuatan supranaturalnya sebagaimana yang dibayangkan manusia, karena orang-orang dalam kesesatan, dan banyak yang masih harus menyadarinya (mendapatkan pencerahan) dalam kesesatan itu, karena itu, tidak diperbolehkan menunjukkan kekuatan superanaturalnya.

Bukankah ada sebait kata yang berbunyi “kepala batu” (bersikeras dengan pendapatnya/ tidak sadar dengan kesalahannya)? Artinya manusia disesatkan oleh penampilan duniawi, tidak percaya pada Dewa. Ketika umat manusia tidak lagi memiliki keyakinan positif, tidak percaya dengan karma, berani melakukan kejahatan apapun, semua orang saling curiga, kritis dimana-mana, maka jarak manusia jadi semakin jauh dengan Dewa.

Akan tetapi, kebaikan Dewa jauh melampaui dari bayangan manusia, bahkan meskipun manusia telah mencemarkan Dewa sekalipun, sang Dewa tetap masih memberi kesempatan lagi. Sebagian dari bencana itu hanyalah peringatan bagi manusia, namun oleh orang-orang yang keras kepala dan masih tidak sadar juga malah menganggapnya sebagai “bencana alam”.

Pengikut Dewa ada dimana-mana, mengalami siksaan dan derita, mengirimkan pesan kebenaran dan kabar gembira dari Dewa, semua ini hanya untuk kedamaian dan keselamatan kita, tapi malah diejek dan didiskreditkan.

Ada yang melihat patung Bunda Maria, Buddha, dan Bodhisattva di belahan dunia itu meneteskan air mata, ini menyiratkan bahwa Dewa telah melihat bencana yang lebih besar bagi umat manusia, tetapi orang-orang justru masih dalam kesesatan dan tidak segera menyadarinya.

Sumber

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate