7 Oktober 2015

Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Buddha.id - Kisah Buddhis kali ini tentu sangat menarik dan sangat sayang jika kamu tidak membacanya. Tentunya banyak sekali kisah-kisah sang Buddha yang belum kita ketahui semua. Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman saya dapatkan dari Facebooknya , dan akhirnya saya share kembali disini.

Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman

Dan berikut ini kisahnya :

Sudah hampir tujuh tahun berlalu sejak Pangeran Siddhattha meninggalkan keduniawian. Saat itu, Raja Suddhodana, yang senantiasa mengawasi putranya secara ketat, mendengar bahwa pangeran telah mencapai Pencerahan dan tengah berdiam di Wihara Veḷuvana. Raja dengan segera mengirimkan sembilan orang menterinya, satu per satu— masing-masing diiringi seribu orang pengiring—untuk mengundang Yang Terberkahi agar mengunjungi Kota Kapilavatthu.

Akan tetapi, ketika mereka mendengar Dhamma dari Yang Terberkahi, mereka mencapai tataran Arahatta dan menjadi bhikkhu. Setelah mencapai tataran Arahatta, para menteri itu tidak mengacuhkan hal-hal keduniawian dan tidak menyampaikan undangan raja kepada Yang Terberkahi.

Akhirnya Raja Suddhodana mengutus Kāḷudāyī, putra dari salah satu menterinya. Ia terlahir pada hari yang sama dengan Yang Terberkahi dan tumbuh bersama sebagai kawan sepermainan-Nya. Ketika ia dan seribu orang pengiringnya tiba di Wihara Veḷuvana, Yang Terberkahi tengah menyampaikan
khotbah. Mereka berdiri sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Pada akhir pembabaran itu, mereka semuanya mencapai tataran Arahatta dan menjadi bhikkhu.

Saat itu, musim dingin telah berlalu dan musim semi sudah tiba. Cuaca tidak terlalu dingin maupun terlalu panas; waktu itu adalah saat yang baik untuk melakukan perjalanan. Jalan menuju ke Kapilavatthu dinaungi oleh pepohonan hutan yang berbunga dan berbuah.

Kala itu, Bhikkhu Kāḷudāyī menyampaikan undangan raja kepada Yang Terberkahi karena ia menganggap bahwa sudah waktunya bagi-Nya untuk mengunjungi keluarga istana-Nya di Kapilavatthu. Ia melantunkan enam puluh bait syair memohon Yang Terberkahi untuk mengunjungi Kapilavatthu.

Setelah mendengar enam puluh bait syair itu, Yang Terberkahi mengabulkan permohonan Bhikkhu Kāḷudāyī. Dengan segera Yang Terberkahi meninggalkan Wihara Veḷuvana bersama dengan dua puluh ribu Arahanta.

Mereka menempuh perjalanan sejauh enam puluh yojana menuju Kapilavatthu selama dua bulan. Sepanjang perjalanan tersebut, Bhikkhu Kāḷudāyī setiap harinya pergi ke istana raja melalui udara dengan menggunakan kekuatan adibiasanya, untuk mengabarkan perkembangan dari perjalanan tersebut kepada raja, serta untuk membawa dari istana sekeranjang penuh makanan khusus yang dipersembahkan raja kepada Yang Terberkahi.

Setiba di sana, Yang Terberkahi dan para siswa-Nya tinggal di taman milik seorang pangeran Sākya, yaitu Pangeran Nigrodha. Anak-anak laki-laki dan perempuan, pangeran dan putri, serta kaum Sākya menuju ke Taman Nigrodha (Nigrodhārāma) untuk menyambut Yang Terberkahi. Akan tetapi, para sesepuh Sākya yang terkenal dengan kesombongannya berpikir: “Pangeran Siddhattha adalah adik, keponakan, dan cucu kami.”

Mereka lalu berkata kepada para pangeran muda tersebut: “Pangeran muda, boleh saja kalian memberi sembah hormat pada-Nya, namun kami akan duduk di belakang kalian saja.”

Untuk menundukkan kecongkakan sia-sia dari para kerabat yang tidak menyadari bahwa Ia telah mencapai Pencerahan, Yang Terberkahi melesat ke udara dan memperlihatkan Mukjizat Ganda (Yamaka Pāṭihāriya), yaitu munculnya air dan api secara bersamaan dari berbagai bagian tubuh-Nya. Raja Suddhodana terpukau dengan fenomena luar biasa tersebut, lalu memberi sembah hormat pada-Nya dan berkata: “Putraku, inilah ketiga kalinya aku menghormati-Mu.”
Semua keluarga Sākya pun bersujud kepada Yang Terberkahi.

Setelah menundukkan kecongkakan mereka, Yang Terberkahi melihat bahwa para keluarga kerajaan sudah siap mendengarkan ajaran-Nya. Ia lalu menciptakan Lintasan Berpermata di udara. Sambil berjalan pada lintasan tersebut, Ia mengajarkan Empat Kebenaran Mulia sesuai dengan watak mereka
masing-masing. Setelah itu, Ia turun dari Lintasan Berpermata dan duduk di tempat yang telah disediakan bagi-Nya. Ia kemudian membabarkan Buddhavaṁsa (Riwayat Para Buddha).

Pada saat itu turunlah hujan yang menyejukkan semua orang dan yang hanya jatuh pada orang-orang yang menginginkannya. Ketika orang-orang tersebut menyatakan rasa takjubnya, Yang Terberkahi lalu membabarkan Vessantara Jātaka untuk menceritakan bahwa pada satu kehidupan yang lampau, hujan juga pernah turun membasahi para kerabat istana-Nya itu untuk menyegarkan mereka.

Seluruh anggota keluarga istana berbahagia dengan Dhamma dari Yang Terberkahi, dan mereka pergi tanpa satu orang pun mengundang Yang Terberkahi dan Persamuhan Bhikkhu untuk menerima dana makanan esok harinya.

Keesokan paginya, Yang Terberkahi beserta para siswa-Nya memasuki Kapilavatthu untuk menerima dana makanan. Dari balkon istana, Putri Yasodharā melihat Yang Terberkahi dan para siswa-Nya. Ia lalu segera melaporkannya kepada Raja Suddhodana. Raja merasa terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia keluar menjumpai Yang Terberkahi dan berkata: “Putraku, mengapa Engkau melakukan hal yang sedemikian memalukannya ini kepadaku
dengan berkeliling menerima dana makanan? Tak pantas seorang pangeran seperti diri-Mu melakukan hal ini. Apa Engkau pikir aku tak mampu menyediakan makanan yang cukup bagi-Mu dan para siswa-Mu?”

Yang Terberkahi menjawab: “Ayahanda, Saya tidak melakukan hal yang memalukan Ayahanda. Praktik menerima dana dari rumah ke rumah seperti ini adalah kebiasaan dari silsilah Saya.”

“Mana mungkin? Putraku, dalam silsilah kesatria, sejak zaman leluhur kita, tidak pernah ada seorang pun yang berkeliling menerima dana dari rumah ke rumah,” jawab Raja Suddhodana.

Lalu Yang Terberkahi menjelaskan: “Ayahanda, ini bukanlah kebiasaan dari silsilah kesatria, namun ini merupakan kebiasaan dari silsilah Buddha.”

Dan selagi berdiri di jalan itu, Ia menasihati sang raja: “Ayahanda, seorang bhikkhu tidak boleh bersikap ceroboh saat berdiri di depan rumah untuk menerima dana. Dan ia juga harus menjalani hidup yang berbudi. Seorang

bhikkhu yang mengembangkan praktik ini akan hidup bahagia di dunia ini dan dunia berikutnya.”

Setelah mendengar bait tersebut, raja menyadari Kebenaran dan mencapai kesucian tingkat pertama, Sotāpatti. Ia lalu mengambil mangkuk dana dari tangan Yang Terberkahi dan menuntun-Nya serta para siswa-Nya menuju ke istana. Kemudian raja menyajikan bagi mereka makanan khusus yang telah disediakan.

Seusai Yang Terberkahi dan para siswa-Nya makan, Ia memberikan wejangan kepada raja: “Ayahanda, seorang bhikkhu harus menjalani hidup yang berbudi dan tidak boleh menerima dana makanan dengan cara yang tidak pantas. Seorang bhikkhu yang menjalani latihan ini akan hidup bahagia di dunia ini dan
dunia berikutnya.”

Pada akhir bait tersebut, Raja Suddhodana menjadi Sakadāgāmi, sementara ibu angkat-Nya, Mahāpajāpatī Gotamī, mencapai kesucian tingkat pertama, Sotāpatti.

Dalam kesempatan lainnya, setelah putra sang raja—Pangeran Nanda—ditahbiskan dan cucunya—Pangeran Rāhula—diberikan penahbisan awal, raja memberitahukan Yang Terberkahi bahwa setelah putranya meninggalkan keduniawian dan menjalani latihan tapa berat, pada suatu malam sesosok dewa mendatanginya dan memberitahukan kepadanya bahwa putranya telah meninggal.

Namun raja tidak percaya kendatipun dewa itu menunjukkan padanya setumpuk tulang belulang. Raja berkata bahwa putranya tak akan meninggal sebelum mencapai tujuan-Nya. Sehubungan dengan hal ini, Yang Terberkahi membabarkan Mahādhammapāla Jātaka pada sang raja. Pada akhir cerita tersebut, Raja Suddhodana menjadi Anāgāmi.

Raja Suddhodana wafat pada usia lanjut. Kala itu, Yang Terberkahi tengah melewati kediaman musim hujan-Nya yang kelima di Vesālī. Mendengar bahwa ayah-Nya tengah sakit keras, Ia mengunjungi Kapilavatthu. Yang Terberkahi membabarkan Dhamma kepadanya, yang memungkinkannya mencapai tataran Arahatta. Namun karena sakit kerasnya itu, Raja Suddhodana wafat
sebagai Arahā awam.

Nah itulah kisah Kunjungan Pertama Sang Buddha ke Kampung Halamannya, semoga artikel bermanfaat dan jika berkenan silahkan share kembali Salam Metta ^_^

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate