10 Oktober 2015

Kerinduan Putri Yasodhara

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kerinduan Putri Yasodhara

Buddha.id - Kerinduan Putri Yasodhara, kisah Buddhis yang satu ini sangat mengharukan sekali, bagaimana tidak melihat sang putri yang begitu setia walau kala itu ditinggalkan Pangeran Siddhattha yang menempuh hidup suci untuk menjadi Buddha, namun ketika yang terberkati datang menemuinya tidak ada perasaan dendam dan benci. Sang putri tetap menghormatinya dan belajar banyak dari sang Buddha yang pada akhirnya putri Yasodara mencapai tingkat kesucian.  Sebelum kamu membaca Kisah Putri Yasodara ini lebih jauh sebaiknya baca terlebih dahulu postingan Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman  , Sebab ini saling berkaitan dengan artikel sebelumnya.

Kisah Kerinduan Putri Yasodharā :
Putriku mengenakan pakaian kuning sejak ia mendengar bahwa Engkau mengenakan   jubah kuning. Tatkala mendengar bahwa Engkau hanya makan sekali sehari, ia juga makan sekali sehari.
Setelah menjalani hidup berkeluarga selama tiga belas tahun bersama Pangeran Siddhattha, pada usia dua puluh sembilan tahun, Putri Yasodharā melahirkan putra tunggalnya, Rāhula. Pada hari itu pula suaminya yang tercinta, Pangeran Siddhattha, meninggalkan keduniawian, serta meninggalkan dirinya dan bayi yang baru lahir itu, untuk mencari jalan Pembebasan bagi semua makhluk. Tujuh tahun kemudian, Ia kembali sebagai sesosok Buddha yang agung dan mulia.

Seusai Yang Terberkahi dan para siswa-Nya makan, seluruh keluarga dan anggota istana, kecuali Putri Yasodharā, datang dan memberi hormat pada-Nya. Akan tetapi, sang putri tetap tinggal di biliknya kendatipun para dayang membujuknya untuk menemui Yang Terberkahi. Putri Yasodharā, yang juga dikenal sebagai Bhaddakaccānā, Bimbā, atau Rāhulamātā, berpikir: “Jika aku memang pernah memberikan layanan khusus yang layak disyukuri, Yang Terberkahi akan datang menjumpaiku secara pribadi. Setelah itu barulah aku akan memberikan sembah hormat pada-Nya.”

Yang Terberkahi menyadari bahwa Yasodharā tidak berada di antara anggota keluarga kerajaan. Segera Ia bertanya kepada raja: “Ayahanda, Saya tidak melihat Yasodharā. Di manakah ia berada?”

“Bhante, ia berada dalam biliknya,” jawab raja.

Lalu Yang Terberkahi menitipkan mangkuk dana-Nya pada raja. Disertai kedua siswa utama-Nya, Ia pergi menuju bilik tersebut. Sesampainya di sana, Ia berkata: “Jangan sampai ada seorang pun yang berusaha menghalangi Putri Yasodharā selagi ia memberikan sembah hormat pada Saya! Biarlah ia melakukan apa saja sesuai keinginannya!”
Ia lalu duduk di tempat yang telah disediakan bagi-Nya.

Mendengar bahwa Yang Terberkahi telah tiba, Putri Yasodharā memerintahkan para dayangnya untuk berbusana kuning. Kemudian, Ia bergegas datang menjumpai Yang Terberkahi dan menyungkurkan badan di kaki-Nya. Sambil menggenggam erat pergelangan kaki Yang Terberkahi, ia menempatkan dahinya di kaki-Nya, lalu menangis sampai air matanya membasahi kaki-Nya.

Yang Terberkahi duduk dengan tenang, dan tak seorang pun menahan sang putri, sampai akhirnya rasa rindunya terobati. Setelah itu ia membersihkan kaki Yang Terberkahi dan duduk dengan hormat.

Raja Suddhodana lalu menceritakan pada Yang Terberkahi mengenai kebajikan Putri Yasodharā: “Yang Terberkahi, putriku mengenakan pakaian kuning sejak ia mendengar bahwa Engkau mengenakan jubah kuning.

Tatkala mendengar bahwa Engkau hanya makan sekali sehari, ia juga makan sekali sehari.
Ketika mendengar bahwa Engkau tidak lagi memakai tempat tidur yang tinggi dan mewah, ia tidur di tempat tidur yang rendah.

Saat mendengar bahwa Engkau tidak lagi menggunakan bunga dan wewangian, ia berhenti meminyaki dirinya dengan ramuan wangi dan berhenti mengenakan bunga.

Bhante, tatkala Engkau meninggalkan keduniawian, para pangeran kerabatnya mengirimkan ucapan untuk menyayangi, memuja, dan merebutnya, namun semuanya itu tak sedikit pun ia lirik.
Demikianlah putriku terkaruniai kebajikan seperti itu.”

Yang Terberkahi menjawab: “Ayahanda, tidaklah heran jika Yasodharā sekarang tetap mempertahankan kesetiaan dan martabatnya, karena dalam kehidupan yang lampau pun ia juga melindungi dirinya sendiri dan setia serta taat pada-Ku kendatipun masih belum matang dalam kebijaksanaan dan tiada yang melindunginya.” Kemudian, Ia membabarkan Candakinnara Jātaka untuk menunjukkan bagaimana pada masa lampau kesetiaannya juga sangat tinggi.

Pada kemudian hari, ketika Yang Terberkahi mengizinkan kaum wanita untuk memasuki Persamuhan, Yasodharā menjadi bhikkhunī di bawah bimbingan Mahāpajāpatī Gotamī. Ia berjuang keras dalam latihannya, dan akhirnya mencapai tataran Arahatta.

Suatu hari, ketika Yang Terberkahi tengah berdiam di Wihara Jetavana di Sāvatthi, Ia menyatakan: “Para Bhikkhu, di antara para siswi bhikkhunī yang terbekali kekuatan adibiasa (mahābhiññappattaṁ), Bhikkhunī Bhaddakaccānā (Yasodharā) adalah yang paling piawai.”

Ini dinyatakan karena ia mampu mengingat kembali kehidupan-kehidupan lampaunya sejauh satu kurun waktu yang tak terhingga (asaṅkhyeyya kappa) dan seratus ribu siklus dunia (kappa) yang lalu.

Tepat sebelum Bhikkhunī Bhaddakaccānā wafat pada usia tujuh puluh delapan tahun, ia memohon pamit kepada Yang Terberkahi dan mempertunjukkan berbagai mukjizat. Dalam Kitab Apadāna Pāḷi, disebutkan bahwa delapan belas ribu bhikkhunī Arahanta, yaitu para sahabatnya, juga wafat pada hari yang sama.

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate