25 September 2015

Tanya Jawab Tentang Fangshen ?

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Buddha.id - Berdiskusi tentang Fangshen selalu saja menimbulkan perdebatan, sebab setiap pandangan orang tentang kegiatan Fangshen ini tidaklah selalu sama, oleh sebab itu kita harus menghargai setiap pendapat yang orang lain utarakan jadi ( jangan meng KLAIM jawaban kita paling benar )
Artikel Sebelumnya : Pelepasan Makhluk Hidup Atau Fang Sen 
Topik tanya jawab tentang Fangshen ini saya dapatkan dari Facebook nya sobat Fendy Huang yang di share ke Grub BUDDHA DHAMMASALA. yang bertanya kepada Bhikkhu Uttamo dengan pertanyaan sbb :

Tanya : BHANTE, Apakah kita harus selalu membacakan paritta di depan hewan yang akan di fangshen ?

Jawab : Adalah niat dan kebiasaan yang baik apabila umat Buddha sering melakukan fangsen atau melepaskan mahluk menderita ke alam bebas tempat mereka hidup. Perbuatan ini adalah merupakan kebajikan atau kamma baik.

Pada saat melepas mahluk, apabila mempunyai kesempatan dan tempat juga memungkinkan, umat Buddha boleh saja membaca Karaniyametta Sutta yaitu kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih. Namun, apabila kondisi tidak memungkinkan untuk membaca paritta tertentu, umat cukup mengucapkan dalam batin secara berulang-ulang kalimat SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.

Dengan membaca paritta atau kalimat cinta kasih ini, umat Buddha dikondisikan mempunyai ucapan serta pikiran yang baik pada saat melepas mahluk. Dengan demikian, jumlah kebajikan melalui badan, ucapan serta pikiran yang ia lakukan pada saat itu akan bertambah banyak.

Tentu saja, semua upacara ritual ini hendaknya dilakukan dengan bijaksana karena membaca paritta di depan hewan yang akan di fangsen memang bukan keharusan, melainkan hanya kebiasaan saja.

Tanya : Apakah hewan yang akan di fangshen harus dalam jumlah tertentu, misalnya menurut tanggal lahir atau umur kita ?

Jawab : Dalam tradisi pelepasan mahluk, kadang memang ada yang menyarankan untuk melepaskan mahluk dalam jumlah atau jenis tertentu. Hal ini sering dikaitkan antara niat awal pelepasan mahluk tersebut dengan Hukum Sebab dan Akibat. Mereka yang menanam padi akan mendapatkan padi; mereka yang ingin panen mangga, mereka hendaknya menanam mangga.

Jadi, misal mereka yang ingin mendapatkan kesehatan serta umur panjang, maka mereka diharapkan melepaskan kura-kura atau penyu yang dipercaya sebagai hewan panjang usia sebagai lambang kesehatan. Sedangkan, mereka yang ingin mendapatkan pasangan hidup, mereka disarankan untuk melepaskan belut dalam jumlah genap. Serta masih banyak kebiasaan sejenis lainnya.

Namun, dalam tradisi Buddhis, pelepasan mahluk dapat dilakukan terhadap segala jenis hewan, dengan jumlah yang bebas dan kapan saja bisa dilakukan. Karena, apapun hewan yang dilepas, berapapun jumlahnya dan kapanpun hewan itu dilepas, semua adalah merupakan kebajikan. Dan, kebajikan itulah yang akan membuahkan kebahagiaan, bukan jumlah maupun jenis hewan yang dilepas.

Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk umat serta simpatisan Buddhis yang ingin melakukan pelepasan mahluk.
Semoga semuanya berbahagia.

Salam metta,B. Uttamo
Bhikkhu Uttamo

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate