14 September 2015

Petapa Asita Menangis Melihat Pangeran Siddhartha

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Petapa Asita Menangis Melihat Pangeran Siddhartha

Sebelum kamu membaca artikel ini Petapa Asita Menangis melihat Pangeran Siddhartha, ada baiknya kamu terlebih dahulu membaca Sekilas Mengenai Siddhartha Gautama sebab saling berkaitan. Kisah petapa Asita pasti sudah tidak asing dan kita sering dengar ceritanya. Asita adalah orang yang meramalkan Pangeran Siddhartha kelak menjadi Buddha.

Mengapa Petapa Asita Menangis ?

Kelahiran putra baginda Raja Suddhodana terdengar di seluruh negeri. Semua rakyat senang dan antusias menunggu kelahiran sang pangeran dan berita ini sampai juga terdengar ke kaum petapa di hutan. Salah satu petapa yang mendengar kelahiran putra baginda adalah Asita atau nama lainya Kaladewala.

Petapa Asita disamping telah mendengar tentang kelahiran putra baginda, ia juga merasakan tanda-tanda yang luar biasa di alam semesta, diantaranya dari jauh terlihat cahaya yang sangat terang yang berasal dari wilayah kerjaan Kapilawastu dan memutuskan untuk mengunjungi istana.

Baginda menyambut kedatangan petapa Asita sambil memperlihatkan putranya. Begitu melihat Pangeran Siddharta, Petapa Arsita menangis sambil mengatakan, "sayang sekali,hamba sudah tua,kelak hamba tidak akan sempat menerima ajaran Sang Buddha,oh....!

Baginda Raja Suddhodana merasa terkejut dan meminta Asita menjelaskan lebih lanjut dan Asita menambahkan kalau kelak ia akan meninggalkan istana untuk pergi bertapa mencari kesadaran sempurna.

Baginda seharusnya bahagia,karena Pangeran adalah Permata Dunia yang mampu membebaskan makhluk-makhluk dari dukkha. Dia adalah Cahaya Abadi Dunia yang tak kunjung padam."

Kata-kata petapa Asita membuat baginda tidak tenang siang dan malam, Karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta,agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian.

Nah itulah yang menyebabkan seorang Petapa Asita Menangis, Sebab ia merasa tidak beruntung dan faktor usia, sehingga tidak mungkin ada kesempatan mendengarkan Dhamma dari sang Buddha.

Salam Metta..!!

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate