21 September 2015

Kisah Pembunuh Berkalung Jari Manusia Angulimala

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kisah Pembunuh Berkalung Jari Manusia 'Angulimala'

Sekilas Kisah Tentang Angulimala - buddha.id, Anguliamala adalah putra seorang kepala Pendeta di istana Raja Pasenadi dari Kosala. Nama aslinya adalah AHIMSAKA.

Ketika Ahimsaka beranjak dewasa, ia dikirim ke taxila, sebuah sekolah yang sangat terkenal.
Ahimsaka sangat pandai dan patuh kepada gurunya. Dan oleh karena itu, ia sangat disenangi oleh gurunya maupun murid yang lainnya.

Murid-murid yang lain menjadi iri hati kepadanya. Mereka pergi menghadap gurunya dan memfitnah Ahimsaka, "Guru, saya melihat sendiri Ahimsaka melakukan tindakan yang melanggar susila pada istri guru ". Sementara murid yang lainnya pun mengatakan, "Guru, saya juga melihatnya".

Guru Ahimsaka sangat marah sekali mendengar berita tersebut dan berniat untuk membalas Ahimsaka. Untuk itu sang guru menyusun rencana. Setelah rencana tersusun rapih, Guru Ahimsaka memanggil Ahimsaka dan memberitahukan kepada muridnya, "Hai Ahimsaka ! Bunuhlah seribu orang lelaki ataupun perempuan dan setelah itu aku akan mengajarkan pengetahuan yang tak ternilai untuk mu".

Ahimsaka adalah seorang yang bijaksana dan pandai. Dan sebenarnya ia memiliki daya ingat yang kuat, namun setelah ia banyak membunuh manusia, daya ingatannya menjadi kabur sehingga ia lupa sama sekali berapa jumlah orang yang telah ia bunuh.

Untuk mengingatnya kembali ia terpaksa memotong jari-jari tangan orang yang telah ia bunuh dan dirangkai menjadi kalung. Kalung ini dibuat oleh Ahimsaka dengan maksud agar tidak salah hitung. Karena memakai kalung jari manusia, maka ia dikenal dengan nama "Angulimala" yang artinya "orang yang memakai untaian kalung jari", dan di kenal juga sebagai pengacau di daerah itu.

Setelah beberapa hari kemudian Raja mendengar perihal perbuatan Angulimala dan raja memerintahkan untuk menangkap pengacau tersebut.
Ibu Angulimala mengetahui rencana raja, dan oleh karena kasih sayang yang besar pada anaknya, ia berusaha untuk menolong anaknya. Ibu Angulimala memasuki hutan tempat Angulimala menunggu korbannya. Pada saat itu kalung Angulimala telah mencapai 999 jari dan tinggal 1 jari lagi akan genap menjadi seribu jari.

Lalu pagi-pagi sekali Sang Buddha melihat Angulimala dengan penglihatan Bathinnya. Jika Sang Buddha tidak menolong Angulimala, maka Angulimala akan membunuh Ibunya untuk menggenapkan kalungnya menjadi 1000 jari. Jika ia membunuh ibunya, maka pasti ia akan masuk ke dalam neraka Avici. Sang Buddha masuk ke hutan, mendahului Ibu Angulimala untuk menolong agar Angulimala tidak membunuh ibunya.

Didalam hutan, Angulimala sangat lelah dan mengantuk sekali. Ketika melihat seorang pertapa lewat didepannya, maka ia sangat senang. Petapa tersebut tidak lain adalah Sang Buddha. Dengan pedang ditangan Angulimala mengejar Sang Buddha Gautama. Aneh, walaupun Angulimala berlari dengan kencang, ia tidak dapat menyusul Sang Buddha yang berjalan dengan tenang.

"O, Bhikku Berhenti !, Berhenti !!!" kata Angulimala
"Aku telah berhenti !, kamulah yang belum berhenti,"kata Sang Buddha

"O, Bhikku !, mengapa engkau berkata bahwa engkau telah berhenti dan aku belum berhenti?" tanya Angulimala pada Sang Buddha.

"Aku berkata bahwa Aku telah berhenti, karena Aku telah berhenti menyiksa dan membunuh semua makhluk, dan Aku telah mengembangkan diriku dalam cinta kasih yang universal, kesabaran, dan pengetahuan yang tanpa celah. Tetapi kamu belum berhenti membunuh atau menyiksa makhluk lain dan kamu belum mengembangkan dirimu dalam cinta kasih yang universal dan kesabaran. Karena itu kamulah orang yang belum berhenti". Jawab Sang Buddha.

Lalu ibu Angulimala mencari anaknya didalam hutan, tetapi dia tidak menemukan anaknya, dan ibu itu kembali kerumahnya. Ketika raja dan para prajurit mengetahui bahwa Angulimala telah menghentikan perbuatannya dan hidup sebagai Bhikku di Vihara Sang Buddha, Raja dan prajuritnya pun kembali ke istana.

Selama tinggal di Vihara, Angulimala dengan tekun dan rajin, melatih dirinya dalam meditasi. Dalam waktu yang singkat Angulimala mencapai tingkat kesucian Arahat.
Dan tidak lama setelah itu, Bhikku Angulimala meninggal dunia merealisasikan kebebasan akhir ("Parinibbana").

Kemudian ada yang bertanta kepada Sang Buddha, "Bhante dimanakah Angulimala akan bertumimbal lahir ?" "Angulimala telah merealisasikan Kebebasan Akhir ("Parinibbana")" Jawab Sang Buddha.

"Bhante, apakah mungkin seorang yang telah benyak membunuh manusia dapat mencapai Parinibbana ?", pertanyaan lanjutan ditujukan kepada Sang Buddha.
"Para Bhikku, Angulimala telah banyak melakukan perbuatan jahat, karena dia tidak memiliki teman-teman yang baik, tetapi kemudian dia menemukan teman-teman yang baik dan dengan bantuan mereka serta nasehat yang baik, Dia telah dengan mantap dan penuh perhatian melaksanalan Dhamma. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan jahatnya telah disingkirkan oleh kebaikan (Arahatta Magga)."

Barangsiapa meninggalkan perbuatan jahat yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat Kebajikan, maka ia akan menerangi dunia ini bagai bulan yang bebas dari awan (Syair Dhammapada 173).

Sekian dulu artikel dari saya mengenai Kisah Pembunuh Berkalung Jari Manusia 'Angulimala', dan semoga dari kisah sepenggal ini kita semua dapat mengambil pelajaran yang bermakna, terima kasih...

Namo Buddhaya...!!

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate