30 September 2015

Kisah Nigamavasitissa

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kisah Nigamavasitissa

Kisah Nigamavasitissa -Buddha.id, Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota kecil dekat Savatthi. Setelah ia menjadi seorang Bhikkhu, ia menjalani hidup dengan sangat sederhana, dan dengan hanya mempunyai sedikit harapan.

Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke suatu desa tempat dimana saudaranya tinggal dan mengambil apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa selalu ingin melewatkan kesempatan ini untuk menerima banyak dana dan makanan lainnya. Meskipun ketika beliau menerima banyak dana dan makanan lainnya. Dan ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu, Nigamavasitissa tidak berkeinginan pergi kesana.

Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal tersebut, bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak memperdulikan orang lain seperti Anathapindika dan Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan dana makanan.

Ketika kabar isu ini terdengar sampai kepada Sang Buddha, Beliau mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan tentang hal itu.

Lalu bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat menjelaskan hal tersebut kepada Sang Buddha bahwa ia memang benar sering mengunjungi desanya, akan tetapi hanya pada saat berpindapatta saja. Ketika Nigamavasitissa telah mendapatkan dana dan makanan yang cukup, ia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan ia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.

Dan setelah mendengar penjelasan tersebut Sang Buddha tidak menegur ia, bahkan Beliau menghargai tindakannya dan menceritakannya kepada para bhikkhu yang lain

Beliau bahkan menyarankan kepada murid-muridnya, untuk hidup puas dengan sedikit keinginan dan kesederhanaan sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya mencontoh tindakan bhikkhu Tissa dari kota dagang kecil.

Berkenaan dengan ini, Beliau menceritakan tentang kisah Raja  dari burung nuri.
"Pada dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lobang sebuah pohon besar yang tumbuh di muara sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis di makan, semua sekumpulan burung nuri pergi meninggalkan lobang tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang hanya masih tersisa di pohon tersebut

Sakka mengetahui hal ini, dan ingin menguji ketulusan hati raja nuri tersebut. Sakka pergi ke pohon tersebut dengan hanya kekuatan supranaturalnya. Kemudia dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya mengunjungi tempat dimana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan, kenapa dia tidak meninggalkan pohon  tua tersebut seperti yang telah dilakukan nuri yang lainnya yang mencari pohon yang lainnya yang berbuah lebat.

Raja nuri menjawab : Karena perasaan terima kasih pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya, dan selama aku masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan berterimakasih sekali, jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan sampai mati.

Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dan dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari sungai Gangga lalu menyiramkannya di sekitar pohon tersebut. Dan tidak lama kemudian pohon tersebut menjadi segar kembali dan tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, dan dengan banyak buah yang tumbuh."

Sangat bijaksana sekali, meskipun seekor binatang tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada didalam kisah tersebut itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 32 sebagai berikut :

"Appamadarato bhikkhu
pamade bhayadassi va
abhabbo parihanaya
nibbanasseva santike"

Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
tak akan terperosok lagi,
Ia sudah berada di ambang pintu nibbana.

 Sekian dulu artikel dari saya tentang Sekilas Kisah Nigamavasitissa dan semoga dari kisah sepenggal ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua, terima kasih.

Namo Buddhaya...!!

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate