30 Mei 2016

Kisah Kebencian Devadatta

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kisah Kebencian Devadatta

Sekilas Kisah Tentang Devadatta - buddha.id, Pada suatu hari, Devadatta menetap bersama Sang Buddha di Kosambi setelah melakukan perjalanan jauh. Selama mereka tinggal disana ia (Devadatta) menyadari bahwa Sang Buddha menerima banyak sekali perhatian dan penghormatan maupun pemberian. Dan di lain sisi Devadatta menjadi merasa iri hati terhadap Sang Buddha yang begitu banyak menerima perhatian dan penghormatan, dan Devadatta pun bercita-cita untuk memimpin Sangha yang terdiri dari Bhikkhu-bhikkhu.

Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang memberikan khotbah di Vihara Veluvana di dekat Rajagaha, dia mendekati Sang Buddha dengan alasan bahwa Buddha sudah semakin tua, dia sangat berharap Sangha akan dipercayakan kepada pengawasannya (Devadatta).

Buddha menolak usulannya serta menegur Devadatta dengan berkata, bahwa dia telah menelan air ludah orang lain. Buddha kemudian meminta Sangha melaksanakann rencana untuk melakukan pengumuman (pakasaniya kamma) sehubungan dengan kelakuan buruk Devadatta.

Setelah mendapat teguran dari Sang Buddha, Devadatta pun menjadi merasa tersinggung serta bersumpah pada diri sendiri untuk membalas dendam dan menantang Sang Budha. Dan tiga kali berusaha untuk mencoba membunuh Sang Buddha.

Yang Pertama, dengan menggunakan beberapa pemanah sewaan.
Yang Kedua, dengan memanjat ke atas Bukit Gijjhakuta, dengan bermaksud untuk menjatuhkan sebuah batu besar kepada Buddha.
Yang Ketiga, yaitu dengan cara memabukkan Gajah Nalagiri untuk menyerang Sang Buddha.

Pemanah sewaan Devadatta yang pertama kembali setelah mencapai tingkat Kesucian Sotapatti, tanpa sedikitpun melukai Sang Buddha.
Batu besar yang didorong jatuh dari bukit Gijjhakuta oleh Devadatta hanya melukai sedikit ibu jari kaki Buddha.
Dan ketika Gajah Nalagiri yang telah dibuatkan mabuk oleh Devadatta lari menuju Sang Buddha, Gajah tersebut langsung beranjak berubah menjadi jinak oleh Sang Buddha.

Dengan ketiga cara tersebut yang telah di rencanakan oleh Devadatta, ia telah gagal untuk mencoba membunuh Sang Buddha. Devadatta pun berusaha untuk mencoba siasat lainnya, yaitu dengan cara mencoba memecah belah Sangha dengan cara membawa pergi beberapa Bhikkhu baru menyingkir bersamanya ke Gayasisa.

Dan setelah beberapa hari kemudian, Devadatta jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, ia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha dengan maksud agar Sang Buddha berbelas kasih menolongnya di Vihara Jetavana.

Mendengar kabar bahwa Devadatta akan tiba, Sang Buddha berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Devadatta tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemui-Nya.

Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengikutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya Devadatta di tepi kolam, dan para rombongan Devadatta pun pergi mandi. Tinggallah Devadatta sendiri ditempat perbaringannya di tepi kolam, lalu ia pun beranjak bangun dari tempat perbaringannya, dan meletakkan kedua kakinya menyentuh tanah.

Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit tubuh Devadatta habis ikut tertelan bumi. Mulai dari situ Devadatta tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk melihat Sang Buddha seperti apa yang telah dikatakan Sang Buddha sebelumnya kepada murid-murid-Nya karena perbuatan jahat yang telah ia lakukan terhadap Buddha.

Dan setelah kematiannya, ia terlahir di Neraka Avici (Avici Niraya), tempat yang dimana penuh dengan penyiksaan terus menerus tiada henti.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 17, seperti berikut :
Di dunia ini ia menderita, di dunia sana ia menderita;
pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu.
Ia meratap ketika berpikir, "Aku telah berbuat jahat,"
dan ia akan lebih menderita lagi ketika berada di alam sengsara.
Sekian dulu artikel dari saya mengenai Sekilas Kisah Kebencian Devadatta, dan semoga dari kisah sepenggal ini kita semua dapat mengambil pelajaran yang bermakna, terima kasih.

Namo Buddhaya..!!

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate