18 September 2015

Kisah Bodhisatta Menolak Tawaran Raja Bimbisāra

Headline News : - Jadwal Perayaan KATHINA 2560 TB Tahun 2016 - Selengkapnya
Kisah Bodhisatta Menolak Tawaran Raja Bimbisāra
(dikutip dari buku Kronologi Hidup Buddha oleh Ashin Kusaladhamma)

Buddha.idKisah Bodhisatta Menolak Tawaran Raja Bimbisāra, Cerita yang sangat bagus dan sayang jika kamu tidak membacanya. Awalnya saya sama sekali tidak mengetahui dan belum pernah mendengar cerita Bodhisatta yang satu ini.

Artikel ini saya dapatkan secara tidak sengaja ketika mengunjungi Facebook nya Yayasan Satipatthana Indonesia dan saya baca sangat bagus sekali lalu akhirnya saya posting disini agar sahabat semua dapat membaca nya.
"Saya sama sekali tak bernafsu terhadap semua kesenangan materi yang sebenarnya dapat   Saya peroleh jika Saya inginkan".
Setelah menjadi petapa, selama tujuh hari pertama Bodhisatta tinggal di hutan mangga setempat yang disebut Anupiya, tidak jauh dari Sungai Anomā. Ia merenungkan dan menikmati kebahagiaan hidup sebagai petapa. Pada hari kedelapan, Ia meninggalkan tempat itu dan menempuh perjalanan sejauh tiga puluh yojana ke selatan menuju Rājagaha, ibukota Kerajaan Magadha, yang diperintah oleh Raja Bimbisāra. Ratu utama kerajaan itu adalah Kosaladevī, yaitu putri dari Raja Mahā Kosala dan saudari dari Raja Pasenadi Kosala; putra mereka bernama Pangeran Ajātasattu. Raja Bimbisāra memiliki seorang istri lain yang bernama Khemā, yang kelak menjadi bhikkhunī dan ditunjuk oleh Yang Terberkahi sebagai siswi utama.

Pada pagi hari, tatkala tiba waktunya untuk menerima dana makanan, Bodhisatta mengenakan jubah-Nya dengan baik, membawa mangkuk dana-Nya—yang dipersembahkan oleh Brahmā Ghaṭikāra, lalu memasuki Kota Rājagaha melalui gerbang timur. Ia berjalan dari rumah ke rumah untuk menerima dana makanan dari keluarga yang berbakti, sepanjang jalan-jalan di Rājagaha. Tatkala Bodhisatta melewati kawasan istana, Raja Bimbisāra tengah hendak memberikan kata penutup pada para warganya setelah suatu perayaan seminggu penuh. Demikianlah, ketika raja berdiri di teras atas istananya, tampak olehnya Bodhisatta yang tengah berjalan dengan tenang dan dengan indra yang terkendali baik.

Para keluarga berbakti yang mendanakan makanan kepada Bodhisatta serta para warga yang tengah berkumpul di kawasan istana semuanya terkesima oleh penampilan agung Bodhisatta, yang terlihat berbeda dari petapa lainnya. Semua orang takjub melihat Bodhisatta yang masih sangat muda, tampan, berkulit bersih dan cerah, dan yang mengenakan jubah-Nya dengan rapi. Wajah-Nya tenteram dan menyenangkan, mata-Nya menatap ke bawah dan hanya melihat sejauh enam kaki ke depan. Cara-Nya berjalan, merentangkan ataupun menekukkan lengan-Nya, semuanya dilakukan dengan anggun. Demikianlah, dalam waktu singkat, warga Rājagaha heboh membicarakan sikap Bodhisatta yang unik dan anggun tiada banding itu.

Sementara itu, para pelayan istana yang mengetahui kehadiran seorang petapa anggun di kota segera menemui Raja Bimbisāra dan melaporkan: “Paduka, tampak oleh kami seorang lelaki muda yang berpakaian sebagai petapa tengah berjalan menerima dana makanan; petapa ini tampan, bersih, rapi, tenang, dan menyenangkan, tidak seperti para petapa yang biasanya kami jumpai. Namun tak ada seorang pun yang mengenal diri-Nya.”
Mendengar hal ini, sang raja yang baru saja melihat Bodhisatta beberapa saat yang lalu sangat ingin mengetahui lebih jauh. Ia memberi perintah kepada tiga kurir istananya: “Ikuti petapa itu! Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan-Nya, dan selidiki di mana Ia tinggal! Jika kalian sempat berbicara dengan-Nya, kalian harus menyapa-Nya terlebih dahulu dan bertanya dengan sopan.”

Sementara itu, setelah mengumpulkan cukup dana makanan untuk hari itu, Bodhisatta meninggalkan kota melalui gerbang timur dan menuju Bukit Paṇḍava, tempat para petapa biasanya berdiam. Setelah tiba di lereng sebelah timur, Ia duduk di bawah naungan pohon di depan sebuah gua dan bersiap untuk menyantap makanan dana itu. Tatkala tutup mangkuk dana-Nya dibuka, Ia sangat kaget terhadap apa yang dilihat-Nya. Nasi dan kari yang dipersembahkan para keluarga di Kota Rājagaha itu tercampur aduk dan tampak sungguh menjijikkan bagi-Nya karena seumur hidup belum pernah Ia melihat makanan seperti itu.

Selaku pangeran, Ia biasanya makan nasi yang putih bersih dan wangi, dengan berbagai lauk yang dimasak dengan lezat dan ditata dengan menarik; melihat atau mencium harum makanan itu saja bisa meningkatkan selera makan-Nya! Namun sekarang, Ia terpaksa memakan nasi dan kari dalam mangkuk dana-Nya. Nafsu makan-Nya lenyap dan Ia merasa jijik. Ia menjadi mual oleh makanan yang penampilannya tercampur aduk dan yang baunya jadi tidak menyedapkan itu. Ketika hendak menyuapkan makanan itu ke dalam mulut-Nya, nyaris saja Ia muntah.

Ia lalu menegur diri-Nya sendiri seperti ini: “Siddhattha, tatkala Engkau masih menjadi pangeran yang penuh dengan kenikmatan dan kekuatan, bukankah Engkau sendiri yang ingin menjadi petapa? Tidakkah Engkau sendiri membayangkan saat Engkau hanya bisa memakan makanan yang diperoleh dengan mengumpulkan dana, seperti halnya petapa yang Engkau lihat di taman itu? Bukankah Engkau sendiri yang bertekad, demi makhluk lain, untuk mencari obat untuk mengatasi kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, dengan mengikuti jalan suci pertapaan? Setelah keinginan-Mu ini terpenuhi, mengapa Engkau malah berkecil hati hidup sebagai petapa, dan masih memimpikan hal-hal yang hanya pantas bagi seorang pangeran?” Setelah berpikir demikian, Ia bertekad memusatkan perhatian-Nya pada makanan hanya sebagai zat untuk menghidupi tubuh dan mendukung hidup suci. Ia menyantap makanan itu tanpa merasa jijik lagi.

Tatkala kurir istana mengetahui tempat tinggal Bodhisatta, dua di antaranya tetap menjaga jarak dan mengawasi-Nya. Sementara itu, kurir ketiga kembali menghadap raja dan memberitahukannya demikian: “Paduka, setelah menerima dana makanan, petapa itu menuju ke lereng sebelah timur Bukit Paṇḍava dan memakan makanan-Nya di bawah naungan pohon di depan sebuah gua. Ia sekarang tengah duduk tenang di sana.”
Mendengar hal itu, Raja Bimbisāra menjadi gembira dan secara pribadi mengendarai kereta istananya ke tempat Bodhisatta berdiam; setelah sampai di daerah yang tak dapat dilalui lagi oleh keretanya, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia mendekati Bodhisatta dan dipersilakan duduk di satu sisi. Sang raja sungguh terkesan dengan penampilan Bodhisatta.

Dengan gembira ia bertukar salam dan menanyakan kesehatan-Nya. Raja berkata: “Anda masih muda dan tampan. Anda juga memiliki anugerah tubuh dan ciri-ciri yang sempurna. Akan tetapi, walaupun masih muda Anda telah menjadi petapa. Katakanlah, siapakah Anda sebenarnya?”
Bodhisatta menguak identitas-Nya: “Paduka, Saya berasal dari daerah Kapilavatthu, yang terletak di kaki Pegunungan Himalaya, di negeri rakyat Kosala. Ayah Saya, Raja Suddhodana yang memerintah daerah itu, berasal dari silsilah Matahari; karena itulah Saya berasal dari suku Ādicca (Matahari). Dan berdasarkan kelahiran, Saya berasal dari suku Sākya. Sākya adalah nama baru yang diberikan oleh leluhur kami Raja Ukkaka kepada keturunannya yang piawai (sākya). Nama Saya Siddhattha dan nama marga Saya Gotama.” Sejak saat itu, Bodhisatta dikenal sebagai “Petapa Gotama” oleh orang-orang.

Raja Bimbisāra bertanya lebih lanjut: “Mengapa Anda menjadi petapa? Apakah Anda bertengkar dengan ayah Anda?”

“Bukan demikian, O Raja Agung, Saya tidak bertengkar dengan ayah Saya. Sebaliknya, Saya menyayangi orangtua Saya, istri Saya, putra Saya, Anda, dan orang-orang lainnya. Saya menjalani hidup suci dengan menjadi petapa untuk mencapai Nibbāna,” jawab Bodhisatta.

“Petapa Gotama, Anda berasal dari kaum penguasa berdarah murni. Janganlah menarik diri dari dunia ini! Datang dan tinggallah di ibukota kerajaan saya! Akan kuberikan kepada Anda sebanyak mungkin kesenangan dan kekayaan istana. Kedua negeri, Aṅga dan Magadha, berada dalam kekuasaan saya. Akan kuberikan kepada Anda separuh dari kekuasaan saya atas kedua negeri itu. Jadilah raja dan memerintahlah!” kata Raja Bimbisāra menawarkan.

Bodhisatta menolak sopan dengan berkata: “Terima kasih, Paduka! Saya sama sekali tak bernafsu terhadap semua kesenangan materi yang sebenarnya dapat Saya peroleh jika Saya inginkan. Namun setelah menjumpai seorang petapa yang menjalani hidup suci demi semua makhluk, Saya bertekad menjadi petapa seperti dirinya dengan mengikuti jejak hidup sucinya. Dengan melakukan ini, Saya akan dapat menolong segenap makhluk dari penderitaan yang disebabkan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.”

Mendengar penjelasan ini, raja menjawab: “Petapa Gotama, ketika Anda hampir memperoleh tahta yang penuh kemuliaan dan kekuasaan, semuanya itu Anda tinggalkan tanpa ragu seolah semuanya itu adalah air ludah.

Demi kemanusiaan, Anda menjadi petapa. Betapa luhurnya tujuan Anda ini! Setelah mengetahui cita-cita Anda yang agung untuk mencapai Nibbāna, saya yakin Anda kelak pasti menjadi Buddha. Petapa Gotama, saya tak akan lagi mengganggu Anda, namun perkenankanlah saya mengajukan satu permohonan. Begitu Anda mencapai Pencerahan Sempurna, datanglah terlebih dahulu ke ibukota kerajaan saya, Rājagaha.” Setelah Bodhisatta menyetujui permohonan ini, raja pun kembali ke kota.

Bagimana ceritanya ? jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman-teman anda hehe..salam Buddhis Namo Buddhaya ^_^

Buddha.id : Semoga kegiatan cetak buku paritta jilid 4 ini berjalan dengan lancar, bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa lihat Disini . Anumodana _/|\_ Found an article helpful? Donate